Gadis itu..gadis sederhana, gadis itu gadis umumnya, dia hanya seorang gadis biasa, dia gadis yang terkadang ingin menampilkan utuh ia sebagai gadis, terkadang ia menangis layak tersedu, terkadang ia tertawa bila kegembiraan menghampiri, terkadang bedak dan lipstick ia pakai tertanda dia ia ingin tampil sebagai layak keindahan seorang wanita, terkadang ia ingin dilihat lawan jenis agar tampil menariknya, tapi tak terpikir olehnya untuk merayu, menggoda bahkan berlebih dalam sebuah sikap,dan terkadang ia cuek dgn jerawatnya ingin tampil apa adanya, inilah aku dengan tanpa bedak dan lipstick, ia hanyalah gadis yang suka akan keromantisan dari suasana, terkadang ia pula membutuhkan ketegasan, ia hanya layaknya gadis yang terkunkung dalam sebuah midset paradigma sebagai karakternya serta pilihan hidupnya, dia adalah gadis terkadang lugu dan terkadang karena sebuah pengalamannya membuat keluguan itu memudar, sebagai sebuah pengetahuan atas realita hidup, ketika bersemayam suatu gelombang hidup, layaknya manusia umumnya, gadis itu bermain mindset itu, layaknya manusia ketika sesuatu yang baru menghampiri ia akan bingung, bahkan asing disitu ada pujian, cibiran, layak garis hidup bercerita, berjalan sesuai alurnya, ketika dia lemah dia tak meiliki semangat dalam waktu bahkan sikap nekat itu, seraya lamunan panjang, lalu menatap langit, langit mengapa kental hitam, bahkan razam, aku tak sanggup, sampai kapan begini, akhirnya ia hanya meratapi kemudian ia tatap alam serasa luas dan begitu luas pula permasalahannya, ah…..damaikan hati, damaikan pikiran, seraya melugukan pikiran dgn tertawa riuh lawakan yang menggembirakan sesaat namun ketika muncul kembali, maka dia akan memikirkan bahkan terhimpit, bahkan surat Tuhan membuat garis-garis lalu terkadang ia puji dirinya, terkadang ia salahkan dirinya, singkat terasa, baru kemarin ia rasakan pikiran yg tidak tahu dan sekarang ia tahu, sesi2 hidup membuat dia tahu tentang alur cerita, ah..serasa ingin menjadi anak yang baru lahir yg hanya ingin merasa makan, dan lapar serta komunikasi yg hanya menangis dan tertawa…ah itu masalalu dan sekarang adalah sekarang yg harus ditatapi, dia bukan perayu dia bukan penggoda, dan dia menjunjung tinggi sebuah sikap, bukan harta, jabatan, serta ketampanan, itu semua semu, gadis itu, gadis yang fair, katakana iya dia akan menjalaninya sebaik-baiknya, katakana tidak dia akan mundur, dan dia akan meninggalkan pula kata diantara iya dan tidak…dan dia menganngap semua ini sempit tak tertata rapi..ia hanya menjadi sebuah bakul nasi, bakul nasi yang terbuat sederhana tapi mengisi kebutuhan setiap manusia…bakul nasi itu tak menarik tapi selalu dibutuhkan tertata diatas meja bersama lauk pauk menjadi sebuah energy, energy yang digunakan dalam putaran waktu hingga semua berakhir, hingga tanah menyatunya….hingga itulah nasi tak dikonsumsi lagi…..