Saturday, October 15, 2011

sepi

wanita yang lalu lalang dalam fenomena adatik...kemudian berjalan semampunya menapak bumi bak berkecambuk tiada henti...merasa ada yang kurang..hambar terasa, dibalik keindahan syair Tuhan yang bergelayut..dan ternyata dia hanya wanita biasa... biasa yang punya rasa namun selalu bimbang, mengapa bimbang rasa takut, atau mungkin malu, atau mungkin sikap negatif thinking bergelayut jika nanti dan nanti, ingin rasa nya membuka namun dia bingung harus dimulai dari mana, cukup sederhana tak ingin apapun selain ketulusan bukan memandang sesuatu baik itu kelebihan atau apa pun itu..karena ia hanya seorang wanita tanpa apapun dalam diri nya, ia hanya terlahir sebagai wanita yang ingin hidup seperti wanita umum nya, menjadi seorang yang patuh dibalik kepemimpinan imam yang menghargai kepatuhannya, ia hanya ingin menjadi seorang ibu yang mendidik anaknya kelak menjadi generasi robbani, dan dia hanya ingin menjadi wanita biasa, yang utuh layaknya wanita. tak sedikit tawaran namun mengapa tak pernah sejalan, kisah asmara hanya bertepi pada tepian nya saja, atau hanya kamuflase yang entah apa yang dicari, ketika ketertarikan insan namun hanya bertahan tak lama, sedang celotehan selalu menggelayut tak henti, namun entah mengapa? dibalik rasa kesibukan yang mendera terlupa sekejap namun dalam kesendirian pikiran itu selalu menggoda, hanya berharap hingga dalam waktu dekat dipertemukan dengan kemudahan jalan amin....

Sunday, October 9, 2011

bercengkerama dengan waktu

seolah waktu melaju, menit, detik, jam,hari dan bulan melaju begitu cepat, tak sedikit berdamai, seolah bertanya untuk apa, hendak kemana, dan mau apa, lalu berjalan merasakan detik itu, menit, itu rangkaian cerita yang selalu mendesak, pikiran bergulat, rasa bergulat, dan tahu bahwa semuanya adalah skenario yang harus dilalui, semua adalah sebuah batang kayu yang seolah-olah kapan saja dia akan jatuh, dan ketika terjatuh kembali ketitik nol, harus tersadari bahwa Allah pemilik mutlak atas hambaNya...sekali-kali merindu ketawa lepas sang bocah, bersepeda ria dengan teman-teman sembari tertawa, atau memanjat gunung hingga lelah tapi ketika sampai puncak terasa nikmat tiada tara, sesekali mengingat indahnya malam beratap langit dengan bulan dan bintang berkecamuk dengan nya, sekali-kali merindu sujud ditengah keheningan malam di masjid yg besar itu, jalan cerita begitu memacu, seolah perbincangan yang memekik pun tanpa henti, dan aku tetap melangkah dibalik cibiran walau sebenarnya apa yang mereka cibirkan...mengapa tak berpikir inilah sebuah cerita Sang Cerita mutlak penentuNya...