Monday, December 26, 2011
study hard for this althuogh limited time
start again for my target, in between my holidays fill study speaks english or study again score my toefl increase, although difficult for me, because my time is divided among my study, work in school and university,sometimes so tired and feel bored in my conditions because repeated conditions, really i miss the wild but i cannot because i must i have to prepare my thesis to graduated my study, i feel sorry to my self, its too late study english, sometimes feel sad with my conditions cannot english because new seriously study english, if from the fisrt may be i cannot feel sad, and can my hold in my purpose, at this time my difficult in english about grammar, and listening, pronountion, i often follows test toefl in internet or course english, my score fluctuation, sometimes four hunderd twenty sometimes again four hundred fifty, my according its number so small, but im trying again for increase my score toefl, although difficult for me, but make efforts for my purpose, english is language word, so we must speak englisk if you wanna carier reached, this is one way i study english, write abuot my heart in english, besides listening music or speaking in internet,or tc, never before problems in my life, really tired but stand up straight for my life, life cycle when change, one of my dream come late, i dont now what must do for this my dream, only wait, wait,wait. i now rules of theories but i cannot at this my condition now, only be patient, and reach solution for this problems in my life, only Allah answer my du'a, may Allah feel my heart, in my self that can strong receive this problem...may Allah brought as soon as.... keep spirit, keep smile, always friendly to everyone....hopefully the benefit of my life for fellow human beings....amin ^_^
Thursday, December 1, 2011
lemah dengan keegoan dan tak tertata rapi emosi itu...
berdiri di ujung, rasa kan emosi itu,lalu dimana kerapian itu...harusnya elok indah dirasa dan dipandang, hingga mencerminkan keindahan, bukan keindahan keelokan secara kasat mata, tapi kedamaian yang suara langit seru, lalu dimana, mengapa serasa tak bisa, mengendalikan setiap kerapian atau kedamaian, atau terlalu penat dengan ini, atau hanya ambisi bukan suara langit yang diharapkan, bagai setan yang mengental meneriakinya, lalu tersedu-sedu menangisi, meratapi, seraya kelemahan, diujung tangan selalu berharap hingga jalan lurus, sampai mata menutup, hingga langkah selalu lurus, apalah daya hidup hanya jembatan menujuNya, bukan tak bersemangat dengan dunia tapi katakan pada dunia tak mampu, biarlah, entahlah, tak tahulah, enyahlah, pergilah, terserahlah, dan pasif menyerahlah, seolah dan taksanggup, mendera bagai rajam tak habisnya, aku dan aku, aku dan aku, selalu begitu, bagai menembaki diri tiada-tiada habis, lorong itu panjang, dan tak bertemu jalan, ah...itu cuma emosi, itu cuma ego, dan itu bukan kerapian dan itu keruh, ah salah satu cerita tertata rapi, bagai gelombang pasang surut, terkadang ini, terkadang itu, bagaimana saja cerita itu bernama cerita hingga semuanya berhenti dan ketika semua berhenti habislah sudah, yang ada hanya senyum keikhlasan yang indah dan abadi, bertemuNya hingga akhir masa, waktu itu singkat, tak tau jalan panjang ini, berharap ketika dipanggil olehNya namaNya ada dilisan ku, dihati ku serta ketika ku sedang berhadapan denganNya, Robb...bukan nya tak sanggup tp takut ketika dunia memenuhi hati ku, memenuhi pikiran dan takut lisan ini bukan nama mu terucap, dan hati ini bukan tertanam nama Mu, kelak aku bertemu dengan Mu, aku emosi, ego, setan menemani.....
Ia yang Mencintai Sepi
Sebenarnya aku tidak mau banyak bercerita tentang dirinya kau tau. Sebab ia tidak –terlalu- suka orang menerka-nerka hatinya atau sikapnya yang pendiam itu. Lebih tepatnya ia seperti merasa sedih sebab memang tidak bisa ia menceritakan hal-hal yang menurutnya rahasia-hal-hal yang munurutnya di percayakan kepadanya itu kepada orang lain. Entah kenapa kali ini aku seperti susah mengekang nafsuku-oh jangan berfikir yang bukan-bukan dulu. Ini bukan nafsu yang seperti itu yang sering menghinggapi benakmu. Dan benakku pula sudah tentu.
Ini nafsuku yang terus menggebu untuk menceritakan sebagian dirinya. Yah, sebagian dirinya saja. Karena aku tidak mau jika lantas ia memusuhiku walau sebenarnya ia tidak pernah tertarik untuk mempunyai atau mencari musuh. Baiklah baiknya kumulai saja ceritaku tentang dirinya.
Inilah ceritanya.
Inilah ceritanya.
Ia terlanjur jatuh cinta kepada sepi. Di kota yang seramai pasar malam itu bahkan lebih ramai dari pasar yang paling malam itu ia melulu merasa sepi. Ia tidak pernah terganggu hiruknya jalan-jalan yang berdesingan semalam suntuk. Ia juga tidak pernah terganggu jikalau para tetangganya membesarkan volume televisi mereka yang menyuarakan dendang lagu-lagu india ditingkah gemerincing gelang-gelang kaki dan tangan para penarinya. Atau adu nada tinggi melengking dalam sinetron-sinetron yang alurnya dari episode ke episode semakin terulur panjang dan ngelantur bagai benang ruwet yang kusam itu. Atau pula debat kusir para tokoh-tokoh yang sudah kerap kali mampir ke studio-studio di program- program acara yang nyaris sama. ia tidak perduli dan tidak terganggu dengan itu semua. Namun aku tahu ia sebenarnya tidak setidak perduli itu.
Dulu ada seorang sahabatnya-oh baiknya sedikit aku ceritakan. Walau sangat pendiam ia juga bersosialisasi sewajarnya dan mempunyai sahabat-sahabat yang setia padanya. Sangat setia malah. Entah karena apa sahabat-sahabatnya itu begitu mempercayainya aku sungguh tidak tahu dan jangan kau tanyakan itu padaku.
Aku ulangi tadi, dulu ada seorang sahabatnya dari kota yang jauh menghubunginya melalui sambungan telepon, menceritakan ada hal yang telah menimpanya. Ia mendengarkan dengan seksama cerita sahabatnya itu selama hampir setengah jam. Selesai sahabatnya bercerita dan ia menutup teleponnya, seketika itu ia berlari menerjang pintu kamar mandi. Dan memuntahkan seluruh isi perutnya di sana. Setelah itu ia terhuyung-huyung rubuh di karpet yang tergelar di depan televisi dengan mata membasah. namun ia tidak pernah menceritakan kapada siapa pun apa cerita dari sahabatnya itu.
Pernah pula beberapa hal datang dalam lingkup pekerjaannya. Aku juga menceritakan sebagian saja mengenai pekerjaannya. Karena nyatanya ia tidak bangga sama sekali dengan pekerjaannya. orang-orang dalam lingkup pekerjaannya sudah begitu mahfum dengan “kediamannya” dan mereka pun juga baik-baik sikapnya terhadapnya. Dan tiga orang diantaranya sangat mempercayainya untuk menaruhkan rahasianya kepadanya yang membuatnya justru merasa seperti memikul beban dan perasaan tidak nyaman yang nyaris menjadi seperti perasaan nelangsa.
Orang pertama yang menaruhkan rahasianya adalah seorang perempuan yang sudah menikah namun merasa tidak bahagia menjalani kehidupan perkawinannya dan tetap mempertahankannya. Hingga suatu waktu perempuan itu bertemu dan jatuh cinta kepada lelaki lain yang bukan suaminya.
Orang kedua adalah seorang lelaki yang naasnya merasa dirinya gay. Sedangkan keluarga si lelaki dan sahabat-sahabat si lelaki ini tahunya ia lelaki normal yang mempunyai kekasih perempuan. Karena sikap si lelaki ini memang flamboyan. Kerap bergonta-ganti pasangan dalam rentang waktu yang tidak lama. Untuk shoping ke mall, nongkrong di cafe, menonton atau menghadiri konser-konser si lelaki ini kerap berjalan di gelayuti perempuan. Hingga suatu hari si lelaki mengetuk pintu ruang kerjanya sehabis waktu makan siang. Lalu menumpahkan serentetan perasaan yang telah membuatnya bertahun-tahun tertekan. Seketika ia hanya mampu menatap si lelaki tanpa berkata apa-apa dari sebrang mejanya.
Orang ketiga adalah seorang lelaki yang terang-terangan memperlihatkan perangainya yang ngonde-gemulai. Dandanannya sungguh gemerlap dan terkesan seperti outlet berjalan. Dari mulai sepatunya gold sneakers , jam tangan tag heuer, celana denim keluaran levi strauss, t-shirt giordano, ikat pinggang moschino hingga kaca matanya yang eksklusif merk maybach dilengkapi dengan semprotan hugo boss yang setelah langkahnya mencapai sepuluh meter pun aroma maskulinnya masih meruap. Diantara barang-barang bermerk yang melekat di tubuhnya hanya ikat pinggangnya yang menggunakan merk khusus perempuan. Namun itu toh tidak mengubah perangainya yang ngonde itu.
Di suatu subuh buta, ketika ia baru hendak melepas mukena pintu pondokannya di gedor-gedor dari luar. Seketika ia berjalan ke pintu membukanya dan betapa terpananya melihat siapa yang berdiri dengan nafas ngos-ngosan dan wajah berlumuran keringat seolah habis separuh jarak tempuh maraton dalam perlombaan. Namun yang membuatnya terpana bukanlah nafas yang ngos-ngosan ataupun keringat yang berlumuran melainkan dandanan sosok di depannya itu.
Memakai wig hitam bergelombang mencapai batas pinggang, gaun terusan tanpa lengan warna ungu ketat dengan sepatu high heel warna ungu tua dan lipstik tebal ungu menyala memoles bibirnya. Dengan penuh mengiba ia meminta masuk kedalam pondokannya karena sedang dikejar petugas kamtib-keamanan dan ketertiban di sebuah taman sekitar sepuluh menit jaraknya dari pondokan itu. Lelaki berdandan perempuan menor ini pun dipersilakan masuk setelah nafasnya lebih dulu dihirup dan dihela dalam-dalam. Sekejap setelah lelaki berdandan menor itu masuk dua orang petugas kamtib lewat jalan depan pondokannya.
Maka begitulah lelaki berdandan perempuan menor itu pun selamat dari razia setelah semalaman mangkal di taman untuk mencari tambahan setoran di mana pundi-pundinya yang biasanya selalu penuh itu kerontang. Lelaki yang sehari-harinya di lingkup pekerjaannya berperangai ngonde dengan perangkat aksesori selalu menempeli tubuhnya bagaikan outlet berjalan.
*******
*******
Bertahun-tahun ia menyimpan hal-hal atau kejadian-kejadian tersebut dan barangkali juga puluhan atau bahkan ratusan kejadian lainnya yang ia ikat rapi dalam bundelan di pojok pondokannya. Hanya saja ketika suatu malam sebelum ia terbangun di lewat tengah malam seperti biasanya, tiga lembar dalam bundelannya terlepas tanpa ia sadari lalu lembaran-lembaran yang lepas itu berhasil aku curi. Untuk aku ceritakan padamu, tentu saja. Hanya untuk sekedar kau tahu hal apa di antaranya yang ia simpan dalam “kediamannya” dan “kesepiannya” itu.
Entah apakah nanti aku masih bisa mencuri beberapa lembar lagi dari bundelannya yang begitu saja ia onggokkan di pojok pondokannya yang tidak pernah ia ingin untuk dikirim atau dikisahkan kepada siapapun itu, aku sungguh tidak tahu.
*******
gang pendidikan, 2011
*******
gang pendidikan, 2011
Friday, November 25, 2011
malang melintang
bagai pasang surut yang entah sampai kapan berakhir...terkadang berpikir dalam-dalam namun, apalah daya,terkadang kuat terkadang lemah, terkadang teori selalu menguatkan tapi hanya sesaat, tak ada solusi, bagai batu hitam kental, bagai rajam yang tiada habis-habis, ku berpikir mengapa terlalu dalam merasakannya, ku sadar namun entahlah... lagi lagi kembali ke titik nadir yang entah sampai kapan akan berakhir, dalami mengapa jauh...mengapa tak seperti dulu seperti baja apa bermain dengan ke egoan? bisakah berdiri tegak? bisa bersabar? bisakah ikhlas? bisakah pasrah? terasa sukar sekali dan sekali lagi terlalu lemahnya diri hingga dikendalikan oleh sebuah kelemahan tapi tidak bisa berdiri tegak, walau turun naik rasanya...Allah hanya memohon kebaikan
Friday, November 11, 2011
Indahnya sholawat
angin menyingkap....sejuk, bagai anay anay yang terbang mengalun-alun bak melodi, lalu menerbangkan sebuah senyap...bagai tandusnya diairi zam zam terasa dahaga hilang...bagaikan kuasaNya membuka mata atas kegelapan, bagaikan jejak menelusuri cahaya yang tiada henti-henti, aku bertemu dalam alunan melodi, aku bertemu dalam sebuah arti, aku bertemu dalam sebuah tanganNya, aku bertemu dalam cahayaNya, dan aku? dan aku? dan aku?, pemimpin umat dendangkan sebuah syair, syair itu menyejukkan setiap detik setiap menit setiap jam bahkan sepanjang denyut yang bedetak tiada henti, tiada, tiada henti, tiada henti, bercumbu dengan melodi itu, merayu dengan melodi itu, membahana hingga samudera luas, biru........ hijau berjuta warna kedamaian menjadi rupa rasa anggun yang berhasta tiada henti, Rasul ku.....
Rasul ku...
Rasul ku...
SHALALLAH ALAIHI WASALLAm
Gamang
sebuah ilustrasi yang tergambar dari suasana hati yang tak pernah tahu, sebuah teori pun tak bisa diterjemahin kata-kata lalu kata, hanya sebuah teori tentang motivasi harapan kehidupan, bukan rasa yang sesungguhnya, lalu dimana ia? mengapa ia mudah berganti, dan mengapa ia tak membangun pondasi dan tiang lalu menjadi pijakan dalam sebuah bangunan, sebuah cara telah dilalui, sebuah langkah harus ditempuh,gamang mana mungkin sebuah menjadi permainan yang semu, bukan sebuah etika, yang begitu saja berlalu, berdengung tentang etika berdengung tentang sebuah cara namun tetap saja semuanya begitu apa adanya, ketika kenyataan itu menghampiri dia termenung dan ketika kenyataan itu menghampiri dia termenung dan ketika kenyataan itu menghampiri dia termenung,lalu apa? mengapa sesuatu yang tak menjadi pijakan selalu berbuat terbaik dan selalu berbuat manis, kehidupan sederhana, dengan sederhana pikiran sederhana tindakan, menjadi sebuah permata yang bersinar hingga kilauan yang tiada habisnya, justru mempunyai segala tapi terlalu terlunta dengan pikiran dan tindakan sehingga banyak aral yang selalu terjal, bimbang, ragu, kemudian tidak bisa menjawab,mengapa dia kosong, mengapa jalan itu tanpa arah yang ada hanya batas-batas, terlalu berpikir keras, atau terlalu mengada-ada mengapa tak berjalan saja berjalan saja berjalan saja entah kemana?
Mata air yg mengalir lalu sentuh rasakan kesejukannya
dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang di kehendaki) Nya. sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq ayat 3)
SubhanaAllah kekuatan dan kelembutan seolah mengaliri setiap kelemahan yang selalu mendera, sebuah angin terasa menyikap membawa keindahan walau ia berasal dari mana walau hanya sekejap tapi sungguh syukur tak terhingga atas nama Tuhan ku yang menciptkan langit dan bumi beserta seluruh isinya, Dia tak pernah lengah, Dia memberi suatu kehangatan dibalik kegersangan diantara sifat manusiawi, Dia selalu memberi kepastian diatas tidak kepastian alur kehidupan, dan Dia berkehedak dengan kebaikanNya diatas tidak ketahuannya kita sebagai ummi, wahai hati,jiwa,pikiran menyatulah dengan JiwaNya, dengan HatiNya, dengan PikiranNya,disitu tak ada kelemahan dan tak ada kesepian dan tak ada kehampaan yang ada hanya kepasrahan total dan penuh, walau jiwa manusia selalu bertanya dan ia lemah, tapi pikirannya selalu membawa ke alam Nya. apa yang hendak dicari, apa yang hendak ditemukan, sujud itu menandakan kelemahan diatas sesuatu, diatas usaha yang tiada kunjung tiba, nikmatilah apa yang ada, bersyukurlah detik ini, menit ini, jam ini dan hari ini, saat ini, rasakan apa yang diberi olehNya saat ini, dan jangan bertanya mengharap bahkan memikir kan ketentuanNya, Dia merencanakan, Dia pembawa takdir kuasa, dan kita hanya berharap sebagai manusia, dan kita berkeinginan sebagai manusia cukupkan sampai disitu, dan kita berdoa berharap sebagai manusia, manusia yang berusaha memahami titahNya melalui tingkah dan sikap menurutNya, yakinlah hati, tuluskan niat, peganglah dengan erat sebuah kesempatan, hiasilah dengan perilaku menurut titahNya. bermujahadahlah karena ia ada setiap detik dan ketentuanNya adalah indah.........
Tuhan ku merindukan Mu
Tuhan ku menginginkan Mu
Tuhan Ku bawalah aku dalam rahasia Mu
Tuhan hilangkanlah sifat manusia jika itu memberikan kebaikan dalam langkah ku...
Tuhan atas nama Mu aku memohon doa ini....
Tuhan atas nama Mu aku belajar menyelami ini.
Harapan manfaat
Seminggu yg lalu aku jalan dgn teman ku aku dihadapkan kenangan masa yg indah dmn sejak TK bhkn perguruan tinggi aku sdh mengenal situasi itu,kondisi itu membuat ku ingin sekali mewujudkan mendirikan sebuah...ku tau kehidupan yg ku jalani adalah sebuah pelajaran dan pengalaman sdh hmpr 5 thn genap ku berkecimpung didunia ini,ingin rasany membangun sendiri kemudian dikombinasi dgn pengalaman yg ada,oh my god ku tau tak semudah berlisan,berkehendak,berharap,dan aku bertanya dlm khayal ku akankah terwujud? Dan pagi ini aku bertemu dgn tetangga yg profesi sama dgn tp diinstasi yg latar pendidikanny sama aku mengatakan aku rindu mengajari huruf2 yg kudpt sejak Tk hingga perguruan tinggi,lalu dia bertanya kenapa begitu? Sungguh entah mengapa hati ku yg menggerakkan,lalu dia mengatakan wlau gaji cuma 50 ribu? Tp cuma 1 jam setiap ku pulang dr profesi ku sekarang,aku hanya punya semangat bahwa tak ada yg sia sia,wlau keinginan itu entah terwujud atau tidak..oh my god terlalu naif..
Bertemu dalam alunan kekuatan dan meyakini dan menjadi pijakan sebagai sebuah cercah.namun rasa selalu menjatuhkan dalam lembah kelemahan...
Terlambai bak kedamaian sejati...terfana terhambur dalam sebuah keindahan hidayah yang mewangi...
berharap Berlindung dari Nya dan menetap dalam keistiqomahannya...
Memang tak sekuatNya...
Memang selalu terjatuh namun selalu bangkit
Memang selalu mengerti namun kemengertian dan keyakinan itu masih samar...
wahai...Gusti... ingin keluguan itu sebagai pilihan, ingin tak kemengertian itu sebagai dasar pijakan itu..
dan kekuatan itu menjadi pilihan,
wahai ketidaktahuan menyatulah...
wahai ketidak mengertian itu sebagai pilihan...
wahai jam berjalan pada porosnya wahai alam yang sejati memilah rasa keindahannya dan kedamaian bak sejatinya ia..
wahai pohon yang besar itu melambai ketika angin menyergap dan biarlah ia meninggi hidup dalam sejuta tahun dan layu ketika pemiliknya menginginkannya...
wahai matahari bersinarlah pada waktunya dan ketika sinar nya tiada karena pemiliknya
wahai bulan menerangi bumi dalam kegelapan itu dan berganti karena kehendak pemiliknya..
jangan pernah bertanya, mengharap yang ada hanya bagaimana membuat jam lebih berarti, menjadikan pohon untuk berlindung, menjadikan matahari tetap berguna,dan menemani setiap langkah dalam sebuah arti, dan biarkanlah bulan tetap menemani dalam Syahdu dalam instuisi hati, jiwa, pikiran dan esok menjelang matahari menyala setiap langkah....dan pohon menjadi ketentraman dan rindangnya hati, jiwa, pikiran...sungguh menikmati itu semua..dalam angan serta cita-cita yang terukir bagai awan yang selalu berwrna - warni.
AMIN......
alur kehidupan
bertemu dalam sebuah ketiadaan hanya keindahan kata, kata menjadi makna yang tak tersirat oleh sebuah kedalaman yang tak pernah mengerti, tak mengenalnya, bahkan asalnya hanya sebuah kata yang sangat berarti, dan mulai menyemai atas kata yang mempunyai makna, naif terasa, terlalu dini, terlalu singkat untuk mendalami rasa, namun indah terasa, aku bukan wanita petualangan rasa yang mudah mengatakan rasa dan aku berusaha menjatuhkan rasa pada yang memaknain rasa, aku terjerat, ku bumbung tinggi dengan sabda-sabda Tuhan bahwa aku harus berakhlak, bahwa nilai Mu harus berarti dalam langkah, selalu berharap agar ketenangan, kezuhudan dan keistiqomahan selalu melekat, aku punya cita-cita bersifat mulia seraya harta terindah, dan panji-panji tradisi mencoba laik Fatimah Azzahro, Siti Aisyah serta Kartini sebagai wanita pemberi terang diatas kegelapan, seta cut nyak dien yang tak henti-henti mengobarkan semangat kebelengguan, namun kuakui terkadang aku lemah layak jatuh diujung dasar samudera ketika ketakmengertian menghampiri, kelelahan yang tak kunujung usai perjalanan ini, aku mengerti waktu dan aku mengerti tentang sebuah keadaan dan aku mengerti takdir,apakah sebuah langkah keputusan akan membuat ku menambah beban, atau malah membuat tenang, cita-cita harapan membumbung tinggi, keputusan yang paling berani diusia yg belum mapan dan matang serta belum stabil beranjak dengan bismiillah telah diambil, dan harus diselesaikan, dan ketika kodrat menghantui seraya cibiran para umum bahwa segeralah menjatuhkan rasa, seolah konsentrasi keputusan yang diambil terpecah belah, dan aku kembali terjatuh dalam sebuah kegersangan jiwa, pikiran dan hati, ku kembalikan lagi kepada Tuhan dan seraya memohon jangan pernah tuhan kasih aku duri, andaikan duri itu harus maka perkenankanlah cahaya kekuatan melekat, takut rasa buruk, menyakiti rasa, dan selalu ingat masa silam menghantui, dimana niat suci, harapan membumbung tinggi serta membangun sebuah fondasi yang kuat mengarah matahari menghantam panasnya, kekurangan kelebihan dipahami merenda masa depan indah diatas naungan indah Illahi, mengharap dunia akhirat digapai, pupus sudah hanya karena permasalahan yang tak berarti, dan terjatuh dalam sebuah dasar, kosong tanpa harapan, hanya hari ini berjalan, menikmati waktu dan keadaan yang sudah ada, tak mudah, mempercayai kembali, tak mudah membangun kembali, dan tak mudah mempunyai harapan kembali, dan selalu bertanya disepertiga malam, pertemukan Allah dengan jiwa-jiwa Mu...
Pertemukan Allah dengan hati Mu
Pertemukan Allah dengan cara Mu
Pertemukan Allah dengan Dunia Mu
Pertemukan Allah dengan akhirat Mu...
Pertemukan dalam kesabaran, keistiqomahan, dalam cita-cita yang harus digapai, mohon Allah kalau rasa ini atas Mu mudahkanlah jalanNya...biar waktu menjadi sebuah pemanis dalam kesabaran, dan biarlah merajut fondasi bak kekuatan atas keadaan, kelebihan dan kekurangan dipahami serta izinkanlah berjuang diatas kepahitan, diatas cobaan, rintang, diatas masadepan yang membumbung tinggi...demi kebaikan dunia akhirat.....
Wanita yang terpasung
Sosok itu lembut, penuh dengan kesabaran, penuh dengan ke”apikan”, penuh dengan kepekaan,keindahan, penuh dengan kasih sayang, itulah seorang wanita, dari luar menampilkan sosok yang lemah namun dalam dirinya menampilkan sosok yang kuat bahkan teramat kuat , dia kunci kehidupan, di tangan nyalah generasi itu ada, di tangan nyalah ia ajari kita kata, kata kehidupan, dan cara mengawali hidup, sosok itu terkadang terdiskriminasikan oleh adat yang melingkupinya, kebudayaan yang membeku membuat ruang lingkupnya terbatas, bahkan penggambaran sebagai sosoknya hanya sebagai ibu rumah tangga sudah cukup, bahkan kewajiban hanyalah dirumah mengurus anak suami itulah rutinitas yang melekat pada sosoknya, bahkan sebagian para wanita merasa terpasung dengan kebudayaan yang sebenarnya dalam Islam tidak ada, islam menggambarkan sosok perempuan yang tinggi derajat, surganya ditangannya, islam sangat membela hak-hak kaum perempuan, contohnya nyata adalah Aisyah RA dialah sosok perempuan yang pandai, hapal ribuan hadits, para sahabat nabi terkadang meminta nasehat atau petunjuk kepada beliau, tentang permasalahan umat yang sedang dihadapi, itu berarti menunjukkan Rasulullah sangat membebaskan Aisyah dalam mencari ilmu, bahkan Rasulullah sering sekali mengajak Aisyah berdialog tentang umatnya pada kala itu, sekarang kita tilik dengan keadaan yang pada umumnya wanita terkadang diremehkan dalam sebuah pendapatnya, bahkan diabaikan dalam setiap ucapannya, dalam sebuah rumah tangga terkadang suami lebih dominan, bahkan kedominan itu terbentuk oleh budaya yang sebenarnya dalam islam tidak ada, sebenarnya tugas dalam pekerjaan rumah tangga, seperti mengurus anak, mencuci, memasak, dan pekerjaan rumah tangganya yang lain, tidak sepenuhnya di urus oleh wanita semata, tapi merupakan kewajiban dari imam rumah tangga, namun adat itu hingga sekarang melekat bahwa wanita merupakan pekerja rumah yang hanya mengurus anak, memasak dan sebagainya,tidak sepenuhnya tanggung jawab itu berada ditangan wanita tapi tanggung jawab itu di tangan pria, dan hendaknya dipikul sama-sama, mengubah paradigma adat butuh hati yang lembut yang tercipta dalam lingkup keseimbangan, terkadang jiwa kesatria terlalu kesatria yang mengarah keegoisan membuat wanita terpasung dan akhirnya adat itu masih melekat hingga saat ini, bahwa wanita hanyalah pekerja rumah. Bukan itu saja dalam dunia kerja, wanita selalu di nomor duakan, ada sebagian perusahaan yang tidak mau mengambil karyawan wanita, karena dengan memperkerjakan wanita resikonya besar, nanti hamil, cuti dan banyak libur karena urusan rumah tangga, mengapa ketika anak sakit ibu yang harus izin dari pekerjaannya, mengapa bukan seorang ayah yang izin untuk mengurus anaknya, atau untuk lebih adilnya mengapa tidak izin keduanya ibu dan ayahnya inilah adat yang melekat hingga saat ini, sehingga sosok itu masih terpaku dengan budaya lama, yang sebenarnya islam menjunjung tinggi kemartabatannya, perusahaan di Indonesia pun masih menggunakan tradisi lama bahwa wanita merupakan pekerja sama dengan pria, hasilnya pun harus sama, padahal sesungguhnya kodrat dari dua jenis insane berbeda, tentunya harus menyeimbangkan dengan ketentuan porsinya masing-masing, diskriminasikan itu pun masih ada hingga saat ini, perempun dilarang untuk membawa anaknya dalam bekerja karena dapat menganggu pekerjaannya, padahal wanita itu lebih pandai lebih apik dalam menyeimbangkan pekerjaannya, banyak wanita bisa menyelesaikan pekerjaannya layaknya pria walau membawa anak sekalipun, terkadang ada kerisihan jika seorang wanita membawa seorang anak dalam bekerja, padahal dengan membawa anak dalam bekerja merupakan pelajarn dini buat anak terhadap keadaan hal hidup orang tuanya, dan anak akan lebih peka terhadap orang tua, jiwanya akan lebih mengenal keadaannya, tanpa meninggalkan dunianya sebagai anak-anaknya. Bahkan untuk pulang sebentar pun sulit bagi seorang pekerja wanita yang sedang menyusui, sehingga susu formula menjadi dominan bagi seorang anak, padahal asi merupakan poin penting dalam masa pertumbuhan bayi atau balita. Jadi sampai kapan keterpasungan itu melekat, dan sampai kapan adat itu melekat dan sampai kapan paradigma itu tetap ada…..
(tulisan ini terinspirasi dari melihat, mendengar…untuk wanita Indonesia yang tetap sabar dalam keterpasungannya).
Jika tersandar dengan yang semu
Jika tersandar sebuah yang semu…
Jiwa manusia yang berubah…
Ia lemah…
Ketika kebahagiaan datang dia lupa…
Jika kesedihan melanda dia meronta-ronta…
Jika dia yakin esok dia ragu
Jika dia setia esok ketika keindahan datang dia berpaling…
Jika dia jujur esok dia bohong…
Jika dia penuh dengan konsep esok dia ubah konsep…
Jika dia bercita-cita esok dia mengubah cita-citanya…
Jika dia berusaha kemudian menemukan aral maka dia lemah…
Jika dia hari ini bahagia esok sedih..
Dia sabar hari ini esok meronta…
Dia pasrah hari ini, esok dia bermurka durja…
Jabatan melimpah membuat dia lupa…
Kemiskinan mendera membuat dia kufur…
Hari ini dia tenang besok bergejolak…
Hari ini dia mendekat padaNya, esok menjauhkanNya..
Hari ini dia membuat keputusan esok dia memutuskan..
Hari ini dia menata esok dia merusak
Istighfar yang terdalam jasad dan raga serta pikiran dan jiwa penuh dengan kesemuan…
Penuh dengan kemunafikan, kealpaannya hingga waktu habisnya tak diketahuinya
Hingga zaman terus berputar…dan itulah ritme sebuah sosok yang dinamakan semu…
(instropeksi buat diri sendiri)
Dahsyatnya
Tabuh yang menggempar, kemudian memberi tanda isyarat, tabuh itu suara mengalun kemudian menyampaikan kabar berita, dan menjadi sebuah kevalidan sebuah absah, linear linear yang mengartikan, menjadi sebuah pijakan dalam sebuah cerita, ah...hela nafas tanda jeda yg tiada habisnya, kemudian berlalu lalang menawarkan sejuta cerita baru, ku katakan ini hanya aroma sesaat yang membutakan dan tak bercermin, bahkan lusuh, merindu dan tak biasa karena tak bisa, kesejukan mendera seolah mewarnai segala asa, cipta dan karya, begitu mewarna hingga tertakjub dibuatnya, jerami itu indah dan dahsyat, ketika bertemu, menyatu tiada habis warna jingga mewarna, seolah kebesaran tak mewakili atas kedalam begitu besarnya, lentur, lembut serta lunak yang luar biasa, bukan untuk ku dan sungguh bahagia bertemu itu, tak ada kilas balik dan tak ingin menorehkan itu kembali, disana aku ada dan disana aku berdiri disana aku berpijak dan selalu bertemu dalam sebuah kebesaran, sehingga apresiasi ini dahsyat dan syukur tak terhingga karena kebesaran Mu tercipta, lantunan itu kini menggema, keindahan instuisi yang tercipta, sungguh ketakjuban dalam setiap sesi, begitu besarnya atas cerita ini
^_^ fabiay alla i robbikuma tukadziban..nikmat apalagi yang kau dusta....
seni nya alur
Muhasabah kali ini tentang jalan kehidupan, hiudp ini tidak pernah tahu, hidup ini ada jalan yang samar, kita hanya bisa berusaha dan berdoa kendalinya adalah Tuhan Maha Kuasa, salah satu contoh cerita yang tak terduga, dahulu cuma hanya kepikiran untuk s1 saja, tak pernah merencanakan atau memplaningkan untuk melanjutkan studi yg lebih tinggi, tiba2 ide datang seketika, langsung beberapa hari kemudian ambil formulir daftar, jadi seketika berubah pula keadaan kondisi, ada sesuatu yang dikorbankan dan semuanya jadi berubah keadaan, atau mungkin cerita lain yang membuat tercengah, planing jauh hari ingin menikmati liburan sekolah disuatu tempat, disana 2 minggu, tiba-tiba ide datang begitu saja, untuk menghabiskan liburan dengan belajar disuatu kota, sudah beli tiket dan travel bag sudah dibeli, dan masih banyak cerita yang lain membuat kita tercengah, ketika suatu kesempatan datang kemudian hilang, atau hari ini tenang tidak ada masalah seketika muncul masalah, yah..begitulah liku-liku sebuah kehidupan yang tak pernah tahu jalannya, semuanya adalah ketakdugaan tanpa planning sebelumnya, yang terpenting menyegerahkan niat baik tanpa menunda kemudian jalani proses, seperti hal ide yang datang tiba2 melanjutkan kuliah tanpa pikir panjang langsung ambil formulir kemudian jalani proses walau awal agak kerepotan tapi seiring waktu berjalan dan adaptasi semuanya mudah, jadi ketika alur kita dilanda kesedihan lihatlah esok akan indah, ini hanya sebuah cerita yang tak pernah tahu arahnya, jalani saja yang terbaik suatu ketika kesempatan itu akan hadir menyapa, walau alur itu di putar-putar arah, di berhentikan atau di tangisi hingga air mata tiada habisnya, tapi jangan jadikan kesedihan kita menjadi energi negatif buat hidup kita, percayalah ini hanya sebuah cerita, bukan hanya mengkhayal bermimpi, merencanakan, tapi bertindaklah untuk hari ini,dan menyegerakan apa yang kita yakini bahwa kita mampu...senyum guys...untuk yang lagi bersedih..percayalah ini hanya alur sebuah kehidupan, cukup lakukan yang terbaik kemudian menyegerakan bertindak jangan lama-lama tuk bersedih karena alur senang-sedih itu alami....^_^ ( for me and for all
life is the reality
ketika berkata..aku melalang buana..dalam sebuah rangkaian indah..yang mendesir bagai pasir berbisik dipadang safana..dia lembut namun gersang, dia panas namun berkilau, lalu anoa yg bersuara merdu bagai sebuah pijakan setiap paradigma, sudut pandang, rangkaian geometri sebuah tebing yang menjajar tinggi, tanpa perencanaan hanya terukir dengan indah, sejuta insan selalu berdoa tapi lauhul mahfuzd tetap berdiri tegak tanpa goyah menunjukkan kuasa, ummi, para lemah, itulah insan yang selalu memohon petunjuk, hanya sebuah keyakinan yang memanifestasikan dari diriNya, semua mengeluh, semua menangis semua tertawa dan semua ingin apa saja yang diinginkannya, lalu kegersangan hati, kepuasan hati, kebencian hati, ketinggian hati membuat puas bagai razam tak habis-habisnya, binal,hingga mengental, kelemahan selalu melemah, dan tak pernah tahu tentang sebuah kebenaran, hanya bermain dipinggir-pinggirnya, dunia lain yg penuh kesucian tapi tersimpan kehitaman yang tanpa disadari, mengajak tanpa mengajak dirinya sendiri, lalu hanya orang yang selalu merendah tanpa merasa merendah apalagi meninggi, matahari itu terbit dengan poros lalu malam tiba bulan datang dengan kesunyian malam syahdu,begitu salah satu rangkaianNya, begitu sempurna, ada kuat ada lemah, ada senang ada sedih semua rangkaian itu tercipta begitu adanya,lalu mengapa sang insan selalu berambisi sesuai dengan keegoannya tanpa berpikir bahwa cukup usaha, cukup doa kemudian kendali mutlak semata kendaliNYA...mengapa cibiran para lusuh, cibiran para komentator tak pernah berpikir Tuhan punya skenario setiap masing-masing hambaNya,yang terkadang kita hanya melihat dari sudut pandang satu arah, dan ternyata kebaikan-kebaikan dalam skenario Allah adalah indah, tanpa harus mengotori dengan jalan-jalannya yang bukan terpuji sebagai keyakinan mutlakNYa, dengan Bismillah jalani skenarioNya, tanpa harus mengeluh, mengandai, atau menjatuhkan diri dalam kehinaan diri.
Sebuah Perspektif
Ah..helaan nafas selalu menarik setiap garis pandang, celotehan syair,atau mungkin kemarahan,hanya terdiam,dan tersipu bak senyum simpul bukan mengartikan kerasny hati,pikiran atau kemarahan2 yg tiada hbs,lalu terdiam bkn berarti diam,diam tetap dlm kelembutan,diam dlm sebuah keegoan,kemarahan,krn hanya sebuah perspektif dan sudut pandang,apalah arti sebuah spekulasi bila tanpa penelitian yg absah,untuk mendapatkan penelitian absah hrs menggunakan metodologi yg sesuai dgn fakta,bukan bermain pikiran dan sejarah atau hipotesis yg blm tentu,bukan tebar pesona,atau tebar kebaikan diri,atau kesemuan diri,dalamilah lalu jgn menuntut orang lain sesuai apa mau,krn berbeda dan kebenaran mutlak semata,dan hati ini berusaha meluruh,sejenak melembutkan hati,pikiran,tindakan dlm artikulasi serta ukiran yg berbatu dgn Illahi..terlelap dlm kepasrahan total dlm pangkuan Nya..krn keajaiban dlm tengadah mlm dlm laparny perut,membinasakan sifat kegersangan,tetap dlm lingkaran Illahi dbalik kegersangan hati pikiran serta rangkaian cerita,dan maaf terdiam dlm pangkuan Illahi..amin
Saturday, October 15, 2011
sepi
wanita yang lalu lalang dalam fenomena adatik...kemudian berjalan semampunya menapak bumi bak berkecambuk tiada henti...merasa ada yang kurang..hambar terasa, dibalik keindahan syair Tuhan yang bergelayut..dan ternyata dia hanya wanita biasa... biasa yang punya rasa namun selalu bimbang, mengapa bimbang rasa takut, atau mungkin malu, atau mungkin sikap negatif thinking bergelayut jika nanti dan nanti, ingin rasa nya membuka namun dia bingung harus dimulai dari mana, cukup sederhana tak ingin apapun selain ketulusan bukan memandang sesuatu baik itu kelebihan atau apa pun itu..karena ia hanya seorang wanita tanpa apapun dalam diri nya, ia hanya terlahir sebagai wanita yang ingin hidup seperti wanita umum nya, menjadi seorang yang patuh dibalik kepemimpinan imam yang menghargai kepatuhannya, ia hanya ingin menjadi seorang ibu yang mendidik anaknya kelak menjadi generasi robbani, dan dia hanya ingin menjadi wanita biasa, yang utuh layaknya wanita. tak sedikit tawaran namun mengapa tak pernah sejalan, kisah asmara hanya bertepi pada tepian nya saja, atau hanya kamuflase yang entah apa yang dicari, ketika ketertarikan insan namun hanya bertahan tak lama, sedang celotehan selalu menggelayut tak henti, namun entah mengapa? dibalik rasa kesibukan yang mendera terlupa sekejap namun dalam kesendirian pikiran itu selalu menggoda, hanya berharap hingga dalam waktu dekat dipertemukan dengan kemudahan jalan amin....
Sunday, October 9, 2011
bercengkerama dengan waktu
seolah waktu melaju, menit, detik, jam,hari dan bulan melaju begitu cepat, tak sedikit berdamai, seolah bertanya untuk apa, hendak kemana, dan mau apa, lalu berjalan merasakan detik itu, menit, itu rangkaian cerita yang selalu mendesak, pikiran bergulat, rasa bergulat, dan tahu bahwa semuanya adalah skenario yang harus dilalui, semua adalah sebuah batang kayu yang seolah-olah kapan saja dia akan jatuh, dan ketika terjatuh kembali ketitik nol, harus tersadari bahwa Allah pemilik mutlak atas hambaNya...sekali-kali merindu ketawa lepas sang bocah, bersepeda ria dengan teman-teman sembari tertawa, atau memanjat gunung hingga lelah tapi ketika sampai puncak terasa nikmat tiada tara, sesekali mengingat indahnya malam beratap langit dengan bulan dan bintang berkecamuk dengan nya, sekali-kali merindu sujud ditengah keheningan malam di masjid yg besar itu, jalan cerita begitu memacu, seolah perbincangan yang memekik pun tanpa henti, dan aku tetap melangkah dibalik cibiran walau sebenarnya apa yang mereka cibirkan...mengapa tak berpikir inilah sebuah cerita Sang Cerita mutlak penentuNya...
Saturday, September 10, 2011
Attitude of patient
You must have experienced difficult about something or maybe condition that bad to our, when tear u fall, and when problem our life appear, day by day is difficult, your thinks so heavy and your energy so end with your problem, this is the way when we have life problem , may be this the way is difficult or one of people easier talk than action, but we only human, and we must understand that difficult to a person from this way, need time after have bad experience to a person, closer to God, and introspection our self why we experiencing these adverse events, sorry to God if our self something wrong and sometimes we thinks, attitude and feeling its not true by God, you now we only human, and many wrong with thinks, attitudes and feeling, sometimes we have feel proud or arrogant, and some time feel better than another people, astagfirullah, and sometimes we find fault another people while see our self, and sometimes denounces attitude another people and never see what we attitude have true, oh my God this is life of reality, true to its, so our feel hurt with attitude someone, the first term be patient, and humble ourself as low as possible, patient attitude is difficult but you must try about its, what are u can do if you bad feel or bad condition, if you more action with your think bad its will more your problem, and you now this difficult but you must silence to important our self, patient is could neutralize the mood of the moment felt like bad condition or anger, so we must hold disappointed feel, hurt feel , although its difficult for our but we must try because we haven’t whatever but calmness and serenity and peace in the hearts, minds and lives. God will give the best for our, because we only servant and God is scenario of our life, Allah say in the quran :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“be sure we shall give the test to you, with something of fear, hunger, lack of wealt and fruits. And give glad tidings to those who patient.” (al-baqarah: 155)
KEEP OUR SELF WITH GOOD ATTITUDE AND SMILE
Wednesday, June 1, 2011
Dahsyat Allah
Tabuh yang menggempar, kemudian memberi tanda isyarat, tabuh itu suara mengalun kemudian menyampaikan kabar berita, dan menjadi sebuah kevalidan sebuah absah, linear linear yang mengartikan, menjadi sebuah pijakan dalam sebuah cerita, ah...hela nafas tanda jeda yg tiada habisnya, kemudian berlalu lalang menawarkan sejuta cerita baru, ku katakan ini hanya aroma sesaat yang membutakan dan tak bercermin, bahkan lusuh, merindu dan tak biasa karena tak bisa, kesejukan mendera seolah mewarnai segala asa, cipta dan karya, begitu mewarna hingga tertakjub dibuatnya, jerami itu indah dan dahsyat, ketika bertemu, menyatu tiada habis warna jingga mewarna, seolah kebesaran tak mewakili atas kedalam begitu besarnya, lentur, lembut serta lunak yang luar biasa, bukan untuk ku dan sungguh bahagia bertemu itu, tak ada kilas balik dan tak ingin menorehkan itu kembali, disana aku ada dan disana aku berdiri disana aku berpijak dan selalu bertemu dalam sebuah kebesaran, sehingga apresiasi ini dahsyat dan syukur tak terhingga karena kebesaran Mu tercipta, lantunan itu kini menggema, keindahan instuisi yang tercipta, sungguh ketakjuban dalam setiap sesi, begitu besarnya atas cerita ini
^_^ fabiayya alla i robbikuma tukadziban..nikmat apalagi yang kau dusta....
^_^ fabiayya alla i robbikuma tukadziban..nikmat apalagi yang kau dusta....
Monday, May 30, 2011
cerita lucu dipagi hari
setiap tulisan yang dibuat sebagai bentuk pelatihan diri bagaimana cara menulis yang baik serta koleksi penulis yang memang hobinya menulis, serta sebuah metamorfosa rangkaian cerita kehidupan dengan menekankan cara pandang, sudut pandang tanpa meninggalkan kesan menampilkan jati diri atau ekspresi keadaan diri hanya sebuah cerita semata....
pagi yang melucukan...
pagi itu sebuah rencana telah dibuat, rencana 2 minggu yang lalu, setelah lama tak bersatu dengan alam, hanya bekutat dengan rutinitas yang mesti dijalani, ketika waktu terhenti hanya diam dan selalu belajar dengan sesuatu yang baru... cukup jenuh tapi sebuah keinginan, sebuah cita cita harus digapai dengan kesadaran dan cara-cara yang harus ditempuh, pagi itu sebelum tabuh berbunyi mata sudah terbuka, dan sudah menjadi kebiasaan bahwa malam tak hanya untuk lelap tapi disitu ada malam yang indah yaitu penyatuan diri, terkadang rasa berat menghampiri tapi entah mengapa mata ini tak terpejam dengan rapatnya, sudah menjadi kebiasaan walau kodrat ada pada seorang wanita setiap bulan namun pembiasaan itu tetap terjadi, selelah apapun, diawali dengan membersihkan diri, lalu sarapan hanya segelas susu, ku langkahkan kaki, tak lupa pamit kepada bunda tercinta, my mom tahu kalau hari ini rencana liburan, dan tidak membawa kendaraan sendiri, rumah yang jauh dari lalulalang kendaraan, agak sulit dipagi hari untuk memulai aktivitas, dan akhirnya jalan satu2nya menggunakan ojek langganan, ojek langganan ketika itu sedang sakit, akhirnya dengan terpaksa kaki ini melangkah diantar my mom hingga berapa langkah, tiba-tiba tetangga ku hendak keluar berolah raga dipagi hari jika liburan tiba, dengan ditemani anak satu-satunya, dia menanyakan mau kemana, kukatakan mau kedepan, lalu menawarkan diri untuk mengantarkan, kusegera mengiyakan, karena arahnya yang sama, maka tak kupikir panjang untuk segera melaju, karena janji waktu mengejar, dan jangan sampai mengecewakan, sepanjang perjalanan dia bertanya, mau kemana ku jawab berlibur, tiba-tiba dia membuka perbicangan yang membuat ku kaget, mbak kok belum nikah? dijawab dengan enteng belum ada jodohnya, lalu dia membuka pembicaraan yang membuat tertawa hingga menggeli tau ga mba waktu dulu aku suka sama mba dan ada niat untuk meminang mba, namun saya lihat karakter mba yang begitu serius membuat saya urung setiap melangkah kaki kerumah mba, aku kaget, tapi kaget ku tak seberapa, hanya senyum simpul ku berikan padanya, terus dia menceritakan lagi kisah hati terhadap diri ku, aku sering lho perhatiin mba ketika pulang kuliah, mba aja ga tau, setiap dipersimpangan jalan, aku tunggu mba, tapi akanmba nya aja ga ngeh, lalu aku katakan padanya, terus sekarang apa tujuannya menyampaikannya, lalu dia jawab biar hati ini tenang mengungkapkan perasaan yang terpedam beberapa tahun silam, aku tertawa hahaha lucu,terus dia lanjutkan lagi, khan kalau udah ungkapin begini saya jadi plong, lalu aku tertawa dengan nada hahaha kasian, terus dia jawab ko kasian mbak, ya inilah salah satu kekecewaan terhadap diri sendiri yang tidak tegas, apa keinginannya, terus dia berceloteh lagi soalnya waktu itu mbak khan lagi kuliah, terus keliatannya mba orangnya jutek gitu, aku tertawa lagi dengan serunya, lalu dia bertanya mba apa jawaban ketika dulu kalau saya ungkapin perasaan itu ke mba, ku jawab diterima, dia dengan nada agak seneng gitu bener? serius? kenapa? soalnya seorang wanita kebih tertarik pada pria yang bersungguh-sunguh apa adanya, dalam menggapai keinginannya..tak terasa perjalanan sampai dekat gang telah sampai, lalu dia mengerut dahi seraya menyesal, terus ku jawab sudahlah itu takdir mu, dan jadikan takdir mu seindah apa pun itu.....hihihi
Wednesday, May 25, 2011
Sosok manusia
Jika tersandar sebuah yang semu…
Jiwa manusia yang berubah…
Ia lemah…
Ketika kebahagiaan datang dia lupa…
Jika kesedihan melanda dia meronta-ronta…
Jika dia yakin esok dia ragu
Jika dia setia esok ketika keindahan datang dia berpaling…
Jika dia jujur esok dia bohong…
Jika dia penuh dengan konsep esok dia ubah konsep…
Jika dia bercita-cita esok dia mengubah cita-citanya…
Jika dia berusaha kemudian menemukan aral maka dia lemah…
Jika dia hari ini bahagia esok sedih..
Dia sabar hari ini esok meronta…
Dia pasrah hari ini, esok dia bermurka durja…
Jabatan melimpah membuat dia lupa…
Kemiskinan mendera membuat dia kufur…
Hari ini dia tenang besok bergejolak…
Hari ini dia mendekat padaNya, esok menjauhkanNya..
Hari ini dia membuat keputusan esok dia memutuskan..
Hari ini dia menata esok dia merusak
Istighfar yang terdalam jasad dan raga serta pikiran dan jiwa penuh dengan kesemuan…
Penuh dengan kemunafikan, kealpaannya hingga waktu habisnya tak diketahuinya
Hingga zaman terus berputar…dan itulah ritme sebuah sosok yang dinamakan semu…
(instropeksi buat diri sendiri)
Tuesday, May 17, 2011
Wanita Yang Terpasung
Wanita Yang Terpasung
Sosok itu lembut, penuh dengan kesabaran, penuh dengan ke”apikan”, penuh dengan kepekaan,keindahan, penuh dengan kasih sayang, itulah seorang wanita, dari luar menampilkan sosok yang lemah namun dalam dirinya menampilkan sosok yang kuat bahkan teramat kuat , dia kunci kehidupan, di tangan nyalah generasi itu ada, di tangan nyalah ia ajari kita kata, kata kehidupan, dan cara mengawali hidup, sosok itu terkadang terdiskriminasikan oleh adat yang melingkupinya, kebudayaan yang membeku membuat ruang lingkupnya terbatas, bahkan penggambaran sebagai sosoknya hanya sebagai ibu rumah tangga sudah cukup, bahkan kewajiban hanyalah dirumah mengurus anak suami itulah rutinitas yang melekat pada sosoknya, bahkan sebagian para wanita merasa terpasung dengan kebudayaan yang sebenarnya dalam Islam tidak ada, islam menggambarkan sosok perempuan yang tinggi derajat, surganya ditangannya, islam sangat membela hak-hak kaum perempuan, contohnya nyata adalah Aisyah RA dialah sosok perempuan yang pandai, hapal ribuan hadits, para sahabat nabi terkadang meminta nasehat atau petunjuk kepada beliau, tentang permasalahan umat yang sedang dihadapi, itu berarti menunjukkan Rasulullah sangat membebaskan Aisyah dalam mencari ilmu, bahkan Rasulullah sering sekali mengajak Aisyah berdialog tentang umatnya pada kala itu, sekarang kita tilik dengan keadaan yang pada umumnya wanita terkadang diremehkan dalam sebuah pendapatnya, bahkan diabaikan dalam setiap ucapannya, dalam sebuah rumah tangga terkadang suami lebih dominan, bahkan kedominan itu terbentuk oleh budaya yang sebenarnya dalam islam tidak ada, sebenarnya tugas dalam pekerjaan rumah tangga, seperti mengurus anak, mencuci, memasak, dan pekerjaan rumah tangganya yang lain, tidak sepenuhnya di urus oleh wanita semata, tapi merupakan kewajiban dari imam rumah tangga, namun adat itu hingga sekarang melekat bahwa wanita merupakan pekerja rumah yang hanya mengurus anak, memasak dan sebagainya,tidak sepenuhnya tanggung jawab itu berada ditangan wanita tapi tanggung jawab itu di tangan pria, dan hendaknya dipikul sama-sama, mengubah paradigma adat butuh hati yang lembut yang tercipta dalam lingkup keseimbangan, terkadang jiwa kesatria terlalu kesatria yang mengarah keegoisan membuat wanita terpasung dan akhirnya adat itu masih melekat hingga saat ini, bahwa wanita hanyalah pekerja rumah. Bukan itu saja dalam dunia kerja, wanita selalu di nomor duakan, ada sebagian perusahaan yang tidak mau mengambil karyawan wanita, karena dengan memperkerjakan wanita resikonya besar, nanti hamil, cuti dan banyak libur karena urusan rumah tangga, mengapa ketika anak sakit ibu yang harus izin dari pekerjaannya, mengapa bukan seorang ayah yang izin untuk mengurus anaknya, atau untuk lebih adilnya mengapa tidak izin keduanya ibu dan ayahnya inilah adat yang melekat hingga saat ini, sehingga sosok itu masih terpaku dengan budaya lama, yang sebenarnya islam menjunjung tinggi kemartabatannya, perusahaan di Indonesia pun masih menggunakan tradisi lama bahwa wanita merupakan pekerja sama dengan pria, hasilnya pun harus sama, padahal sesungguhnya kodrat dari dua jenis insane berbeda, tentunya harus menyeimbangkan dengan ketentuan porsinya masing-masing, diskriminasikan itu pun masih ada hingga saat ini, perempun dilarang untuk membawa anaknya dalam bekerja karena dapat menganggu pekerjaannya, padahal wanita itu lebih pandai lebih apik dalam menyeimbangkan pekerjaannya, banyak wanita bisa menyelesaikan pekerjaannya layaknya pria walau membawa anak sekalipun, terkadang ada kerisihan jika seorang wanita membawa seorang anak dalam bekerja, padahal dengan membawa anak dalam bekerja merupakan pelajarn dini buat anak terhadap keadaan hal hidup orang tuanya, dan anak akan lebih peka terhadap orang tua, jiwanya akan lebih mengenal keadaannya, tanpa meninggalkan dunianya sebagai anak-anaknya. Bahkan untuk pulang sebentar pun sulit bagi seorang pekerja wanita yang sedang menyusui, sehingga susu formula menjadi dominan bagi seorang anak, padahal asi merupakan poin penting dalam masa pertumbuhan bayi atau balita. Jadi sampai kapan keterpasungan itu melekat, dan sampai kapan adat itu melekat dan sampai kapan paradigma itu tetap ada…..
(tulisan ini terinspirasi dari melihat, mendengar…untuk wanita Indonesia yang tetap sabar dalam keterpasungannya).
Tafakur dari semut
Sering kita bosan atau boring terhadap apa yang kita lakukan sehari-hari, bahkan terkadang kita mengeluh apa yang menjadi tanggung jawab kita, kali ini muhasabah yang akan dibahas adalah belajar dari seekor semut. Semut adalah binatang yang diciptakan oleh Allah dengan keuletan dan kesabaran dalam menggapai apa yang menjadi impiannya, semut selalu berusaha apa yang menjadi keinginannya, dia tak akan pernah jenuh bahkan bosan apa yang menjadi tujuan, selalu dia lakukan berulang-ulang, untuk mengumpulkan sebuah makanan itulah impiannya bahkan batu besar pun dia lewati untuk menggapai tujuan yaitu makanan, ketika dia mendapat rintangan dalam menggapai impiannya, dia terhenti sebentar kemudian dia mengumpulkan kekuatan tenaga yang lebih besar untuk menggapai impiannya tersebut. Itulah salah satu gambaran ciptaan Allah dalam tafakur semut, inilah yang dikatakan istiqomah, kita diperintahkan oleh Allah untuk bersungguh-sungguh terhadap apa yang kita impikan atau cita-citakan, terkadang perasaan jenuh, bosan yang berulang-ulang setiap pekerjaan atau tindakan yang dilakukan membuat kita tak bersungguh-sungguh, bahkan kita lebih asyik dengan kemalasan yang mendera, atau kesenangan sesaat yang membuat kita terlena, disinilah dibutuhkan pemikiran yang mendewasakan pribadi, akhlak merupakan cerminan dalam setiap tindakan, ketepatan dalam bertindak merupakan kunci cita-cita, dan dibutuhkan pengorbanan kesenangan dibalik keinginan kita, apalagi ketika rintangan menghadang membuat kita jera dan terlena dengan rasa yang mendera rintangan tersebut, dan kita akan melangkah mundur kembali, itulah yang menyebabkan kita gagal dalam meraih impian kita, jadi lakukanlah apa yang menjadi tujuan, impian kita, jangan pernah bosan, jenuh melakukan kegiatan yang berulang-ulang, dan ketika rintangan menghadang maka jangan terhenti, terhenti sesaat kemudian bergegaslah dengan kekuatan yang lebih besar raihlah impian kita.
(muhasabah buat diri sendiri tanpa rasa menggurui siapa pun, karena penulis pun seorang yang lagi belajar untuk menjadi lebih baik).
Tuesday, May 10, 2011
instropeksi diri dari syair cak nun
Syair Mahasiswa Menjambret
“Aku tak paham apa yang aneh”, berkata penyairku, “Kalau mahasiswa mulai sanggup menjambret, kalau pelajar sudah berani mencuri odol, dan sikat gigi, kalau para calon pemimpin bangsa telah memiliki nyali untuk mencopet jam tangan dan mengutil sepatu: tak kumengerti apa yang perlu diherankan?”
Bukan. Bukan soal heran dan tak heran. Kami orang-orang awam terlalu sering dikagetkan oleh perkawinan antara dua hal yang semestinya jangan pernah bersentuhan.
Antara dunia penjambretan dengan dunia dunia keterpelajaran terbentang jarak yang bukan saja amat jauh, tapi juga bersungguh-sungguh. Kalau ada dua nilai yang saling bertentangan, namun berhasil dikawinkan secara damai oleh sejarah dan perilaku manusia: hanya penyair tuli yang tak tergoda untuk menuangkannya.
“Demi apa sehingga engkau menganjurkan puisi bergaul dengan hal-hal picisan?”, penyairku tertawa, “Para kaum terpelajar yang baru belajar menapakkan kaki, yang keterampilannya tanggung ? menggeledah tas teman kostnya, melarikan motor tetangganya, merencanakan penodongan,
perampokan, pembunuhan ? belum pantas dipuisikan.
Dunia kepenyairan tidak sedemikian rendah derajatnya.
Jagat kesenian memerlukan soal-soal besar, umpamanya kesepian hati atau kembang dan kupu-kupu di pagi hari.
Tapi baiklah. Kalau kaum terpelajar bersedia tak sedemikian tergesa-gesa. Kalau para pioneer sejarah
sanggup menahan emosi dan sedikit bersabar. Kalau para pemilik utama masa depan mau belajar baik-baik dan tunggu momentum yang tepat untuk kelak menjadi penjambret yang canggih tersenbunyi, tanpa orang tahu bahwa mereka adalah penjambret ? puisiku masih akan membukakan
pintunya untuk suatu tawar-menawar.”
Apa yang sesungguhnya hendak engkau ucapkan, penyairku?
Penyair amat berbakat merusak kehidupan karena begitu gampang menemukan kata-kata, bahkan pun untuk keadaan yang samar-samar baginya.
Malah mengeras tertawanya, “Samar-samar, katamu?”, ia mendongak, “Kalau mahasiswa mulai sanggup bertindak kriminal, apakah ia diajari oleh dirinya sendiri?
Ataukah ia dituntun oleh para pejambret yang mampu Melakukan penjambretan sedemikain rupa sehingga beribu-ribu orang tak merasa bahwa isi kantong kehidupan mereka terus dijambret dari hari ke hari?”
Kupikir itu bukan hanya sombong dan tergesa-gesa. Namun juga berangkat dari sangka buruk. Adakah kemampuan yang dahsyat dalam memotret sesuatu yang dimiliki penyair membuatnya tak membiasakan diri untuk bersabar, menyaring atau mengendapkan?
“Dengarlah”, ia mendongak lebih tinggi, “Kalau para kaum terpelajar mulai belajar mengerjakan kejahatan-kejahatan yang wantah, adakah engkau menyangka Tuhan memang mentakdirkan mereka demikian? Ataukah itu hasil godogan dari tata hubungan kehidupan yang menyediakan amat banyak lintah-lintah?
Dengarlah air mengalir tidak tiba-tiba sampai di muara.
Dan jika matamu memandang awan berarak, hendaklah engkau tatap juga samudera yang menghampar dan panas matahari yang memanggangnya. Mendung tidaklah mengepulkan dirinya sendiri dan kemudian hadir menyaput hari-harimu sebagai hantu yang tanpa asal-usul?”
“Kalau mahasiswa mulai sanggup menjambret di muka orang banyak,” ia tak memberiku kesempatan untuk menang-gapi, “Siapakah gurunya? Tangan siapakah yang melontarkan mata tombak kejahatan? Petani manakah yang menanamkan benihnya dan merabuki kesuburan tetumbuhan-nya? Kalau kaum terpelajar mulai sanggup melakukan tingkat kejahatan yang paling dangkal dan remeh,
Apakah karena mereka memang orang jahat?”
“Kebaikan dan keluhuran tidak diterjemahkan ke dalam buku-buku pelajaran. Gedung-gedun sekolah menyediakan laboratorium bagi anak-anak untuk menjadi pandai, dan tidak terutama untuk menjadi baik.
Mendaftarlah ke antrian kesempatan sekolah, tinggalkan anak-anak lain yang tolol dan tak punya biaya. Reguklah Tujuh samudera pengetahuan. Tapi untuk soal-soal bagaimana membangun kebajikan, sepenuhnya diserahkan kepadamu masing-masing ? apakah akan mencarinya di
balik tikar-tikar kumuh robek rumah-rumah ibadah, atau di pinggiran kaki lima-kaki lima kehidupan?”
“Kalau anakmu berangkat sekolah di pagi hari, mulutnya menganga untuk disuapi pengetahuan tentang kepandaian dan kemenangan, bukan kebijakan dan kebersamaan.
Anak-anakmu diajari berlari maju, melampaui dan meninggalkan anak-anak lain yang bersemayam di kesempitan-kesempitan hidup.
Anak-anakmu diajari untuk terampil memanjat melewati pundak teman-teman bermain mereka, beribu-ribu, berjuta-juta teman bermain mereka yang perjalanan hidupnya tercengkal.
Meninggalkan mereka semua yang mandeg di masa silam.
Pergi berlari, meniti daerah impian, menapaki tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi dan menjanjikan kemewahan.
Anak-anakmu diajari untuk mengalahkan yang lain.
Untuk melampaui dan meninggalkan sumber-sumber kesejarahan mereka sendiri, untuk meraih apa yang disebut derajat, kamukten dan kemenangan.
Anak-anakmu berbaris di halaman sekolah, berjajar di bangku-bangku kelas, punggung mereka dicambuk untuk berlatih menang ? dan jika kemenangan amat sukar diperoleh secara wajar ? sebab peluang untuk itu menjadi semakin sempit dan semakin sempit ? maka wajarlah jika mereka lantas menjegal siapa saja di sekitar mereka yang bisa dijegal: mencopet, menjambret, merampok,
di kampung, dijalanan”
“Adapun hal-hal yang menyangkut nasib orang lain, tenggang hati terhadap sesama, kesadaran utnuk meruwat keadilan dan kemuliaan ? tidak merupakan urusan utama di dalam butir-butir pelajaran dan baris-baris pengetahuan.
Adapun soal-soal yang berkenaan dengan tubuh besar kemanusiaan, keinsafan untuk nggemateni nilai dan keilahian ? hanyalah unsur pinggiran bagi pusat-pusat mimpi dan perjuangan untuk berlomba menang, kontes kemakmuran dan rekor-rekor kesejahteraan serta kemegahan”
“Anak-anakmu diajari untuk tidak mengerti apa-apa kecuali kepentingan diri sendiri. Tangan dan kaki anak-anakmu dilatih tidak untuk apa-apa kecuali untuk beringas memompa perut dan gengsinya sendiri.
Naluri anak-anak dididik untuk menindak dan memakan orang lain untuk cita-cita pribadi. Anak-anakmu dipacu untuk berpikir sebagai ego, di mana segala sesuatu di luar itu hanyalah amat bagi ego-ego.
Anak-anakmu dibikin tak paham kebersamaan. Anak-anakmu dididik untuk menjadi segumpal keasingan, tidak untuk menjadi seseorang di tengah berbagai orang.
Anak-anakmu dididik untuk menjadi pusat-pusat penghisap”
“Anak-anakmu diletakkan di dalam proses salah kaprah untuk berkembang menjadi penjambret-penjambret yang halus dan sophisticated Maka apabila ada di antara mereka yang kebelet melakukan
ketololan dengan menjambret di jalanan, itu hanyalah pertanda bahwa daerah-daerah untuk proyek penjambretan-penjambretan canggih sudah semakin menciut.
Anak-anakmu tidak terlalu siap untuk ragu-ragu terhadap kesempatan, untuk terlampau berjudi dengan hari depan yang samara-samar; sehingga hari ini juga mereka merasa harus memperoleh sesuatu, mendapatkan benda-benda, gengsi dan kenkmatan seperti yang dipunyai orang-orang lain”
“Gerbong-gerbong sekolah dengan sendirinya mengangkut mereka ke hari depan penjambretan struktural meskipun guru-guru mereka tak mengetahui hal itu.
Guru-guru mereka ? yang toh manusia sehingga tetap tersisa kemanusiaannya ? di luar paparan kurikulum, memberi nasihat bahwa penjambretan itu tidak baik. Tapi hendaklah kita catat bahwa di dalam negara dan perusahaan sekolah: penjambretan diajarkan, sedangkan kejujuran dan kebajikan hanya dianjurkan sesekali”
“Dan di manakah sejarah ini memiliki tempat bagi anak-anakmu dalam kehidupan?
Jika anak-anakmu berdiri memandang tanah menghampar, mereka membayangkan akan mendirikan rumah, garasi dan kolam renang. Jika di depan matanya tegak sebatang pohon, mereka berpikir untuk menebangnya. Anak-anakmu tidak dididik untuk menanam dan menumbuhkan, melainkan untuk
menguasai dan duduk di singgasana”
“Anak-anakmu bertengger di bawah batang timbangan yang timpang antara modal dan daya tawar menawar yang rendah dengan iming-iming hidup enak yang meneror mereka dari hari ke hari
Anak-anakmu dikepung oleh gegap gempita orang berebut kejayaan. Orang jegal-menjegal. Orang menyerimpung dan diserimpung. Anak-anakmu dikepung oleh uang dan kekuasaan yang menjadi bahasa utama dari yang mereka sangka kemajuan. Oleh pasal-pasal hokum yang diperjual belikan. Oleh ayat-ayat agama yang dijual eceran. Oleh tradisi penafsiran yang sepihak. Oleh pemaksaan yang damai, kemunafikan yang harmonis, manipulasi yang berwajah ramah, kepalsuan yang cerah dan penghisapan yang nikmat. Anak-anakmu makin tidak menemukan tempat untuk meneladani kejujuran. Anak-anakmu digiring memasuki komune tempat perzinaan missal dari sejarah yang
auratnya telanjang tapi wajahnya bertopeng”
Kutinggalkan penyairku. Tampaknya aku mulai memahami kepenyairan bukanlah sejenis bakat di mana kata-kata amat gampang ia temukan dan pilih. Kepenyairan adalah - hampir - ketidakmampuan menemukan kata. Sebab kata lebih sanggup mengaburkan kenyataan dibanding mewakilinya.
Dan penyairku, dengan ratusan kata-katanya itu, kukira telah berbuat curang terhadap realitas.
Tapi ia justru tertawa keras dan berkepanjangan ketika melepasku pergi, “Bagaimana engkau bias menjadi sedemikian tolol untuk menyangka bahwa urusan utama para penyair adalah kata-kata? Dengan kata-kataku itu aku tidaklah berkata-kata. Ini kehidupan”
1988.
(Emha Ainun Nadjib/"Sesobek Buku Harian Indonesia"/1993/Bentang Intervisi Utama/PadhangmBulanNetDok)
Subscribe to:
Posts (Atom)