terdengar sayup berita duka dari ujung sana, setelah sekian waktu dalam kesemuan, ternyata doa ku terjawab, aku ingin berjalan di keterangan yang tanpa kesemuan diantara iya dan tidak, ku temui jawaban tidak walau perih, walau waktu terbuang sia-sia, menginstropeksi mengapa tidak, ternyata yang disana kumuh, dan Tuhan melindungi ku dari kekumuhan itu, bangkit dengan terluka, bangkit diatas cita-cita yang menuai perjalanan yang lelah, dan bangkit diatas kemuakan situasi, dan bangkit diatas kemuakan ego, yang tak pernah henti dan aku masuk dalam lingkaran itu. ternyata diam ku, rasa tak perduli ku serta keletihan ku terhadap keadaan itu membuat alur ini semakin tajam menghujam bak titik akumulasi sebuah sesi yang harus di jalani,berusaha meruntuhkan ketidak tenangan atas sesi ini, sebagai insan yang tak berdaya lemah, rapuh, bahkan air mata mengalir tiada henti di akhir-akhir ini sebagai ratapan cerita hidup yang tak henti-hentinya, semoga ratapan tak henti-henti ini bisa melewatinya, menata kembali, membiasakan diri dengan sesi ini, serta tetap tenang dan bergerak maju dengan sesi ini,karena perjalanan masih panjang, hanya selalu terucap seraya rasa lemah di raih Sang Penguat agar keikhlasan terhadap sesi ini semoga bisa melewatinya dan senyum itu kembali seperti sedia kala.
ya... move on meletakkan rasa-rasa lemah itu dengan cara move on, ada hal yang lebih penting yang harus di capai agar waktu meloloskan setidaknya satu beban terselesaikan, dan yang terpenting membangun pondasi keyakinan sejak dini agar ketika selesai dapat melangkah pasti bersama keyakinan, dalam hal ini belajar dari sebuah pengalaman tak ingin sebuah kesemuan, dan tak ingin sebuah kelikuan dalam cerita...berjalan layaknya bukan mimpi atau harapan semu, mengusahakan, bergerak dengan waktu yang bisa terukur. dan tindakan nyata merupakan hentian untuk keraguan, peganglah niat ku diatas usaha nyata seorang kesatria yang mempertahan aku sebagai pilihannya kelak, hingga tak lengah, hingga menjatuhkan hati padanya saja, meyakinkan bahwa kesatria itu memilihku dengan keyakinan serta kesungguhan yang semata mengharap ridho Allah semata dan aku pun memilihnya. semoga tulisan ini mewakili sikap diri, sesungguh jika Allah berkenan diatas usaha layaknya wanita yang menggapai cinta Illahi yang abadi diatas niat suci. bukan harta, tahta serta rupa hanya mengharap ridho Allah semata, bukan pula kumuh, bukan pula mengemis, bukan pula kesendirian yang tak beretika tapi ini semua merupakan etika dalam menggapai ridho Allah semata. ^_^
Wednesday, November 21, 2012
Monday, October 29, 2012
nyata
heningan malam..membuat kaku seiring kata-kata yang penuh dengan tanda tanya
pernah bertanya tapi terasa sulit...terasa kusutan benang yang ingin sekali di luruskan namun terasa perjuangan itu, berusaha memaksimalkan meluruskan hingga entah bagaimana caranya, terkadang bertanya sekeras inikah...sekusut inikah...bertahan lamanya, berhenti, pergi dan datang kembali, apa yang salah tak pernah tahu, bagaimana jalannya tak tahu..seolah pertanyaan yang semu itu menohok tenggorokan, seolah semua tertuju pada kesalahan yang bertubi-tubi. apa yang salah..apa dan bagaimana seolah tak habisnya, lelah, letih, dengan kesemuan ini, dengan ketakmenentuan, seolah cabik-cabik yang tiada henti, Hanya Raja ku yang membuat ketenangan di ketakmampuan ini, tak kemampuan seorang manusia, seorang wanita yang entah seperti apa, bagaiaman, bagai liku - liku yang tak menuai arah, apa mau??? hendak apa??? untuk apa??? atau memang terlalu bermain dikedalaman, dan terperosok dalam sebuah ketakpastian....merindu kebebasan diri dari keteperosokan, dari kesemuan, terbang bebas dengan sayap-sayap lepas tanpa ketakjelasan, bukan pula iya dan tidak tapi iya dengan bebas dan tidak dengan bebas, dan jangan katakan sebab itu ada pada ku, dan jangan katakan karena sebuah kesalahan ku, atau permainan ku...dan jangan salahkan aqu
Sunday, September 16, 2012
Begitulah negeri
Negeri tercinta…
Dengan senyum ibu pertiwi
Dengan lambang suci serta keberanian yang benar
Suci yang putih menunjukkan keberagamaan yang benar-benar
suci berasal dari illahi semata
Maka di kesucian itu mencerminkan etka-etika yang dijunjung
tinggi
Anak-anak negeri yang lugu, senyum manis yang mengembang
yang suci
Yang kelak akan memimpin negeri
Namun…
Kesucian itu terkadang di gunakan dengan kepentingan yang
hitam kental yang lusuh
Bahkan Tuhan ku di jual demi hitam kental yang lusuh
Bahkan haknya si tak mampu diambil demi hitam kental yang
lusuh
Dan jeritan-jeritan kelusuhan seolah mencerminkan kebenaran
tapi sebenarnya hitam kental yang lusuh
Lalu anak negeri bertanya begitu kah sikap yang benar???
Anak yang lugu penug dengan metamorfase kehidupan yang
disajikan tontonan hitam kental
Maka wajar…jika si anak negeri saling pukul, memukul, bahkan
nyawa pun melayang diatas kehitaman dan husnul khotimah dan melekat dalam
kematiannya
Sayang seribu sayang telah hilang sosok negeri kesucian
Sayang seribu sayang ketika pelajaran agama an budi pekerti hanya
berupa teori yang tak teraplikasikan
Serta yang ada contoh-contoh hitam kental yang ditampilkan
Terasa tak ada arah dimana hakikat kesucian
Maka apa yang terjadi kelak dalam hitungan waktu tradisi
hitam kental masih mentradisi
Anak negeri yang malang, yang bermertamorfase hitam kental
yang lusuh sayang seribu sayang
Contoh teladan yang hilang sayang seribu sayang
Sunday, July 22, 2012
terdiam
alhamdulillah terdiam
helaan nafas panjang....
bukan mengeluh tapi terdiam..
terdiam dengan cara-cara yang kurang tepat..
terdiam atas cara yang tepat
terdiam dengan kelemahan
terdiam atas kelebihan
terdiam atas keegoan
terdiam atas kelembutan
terdiam atas konsep
terdiam atas tak berkonsep
terdiam atas pola-pola yang kurang tepat
terdiam atas pola yang tepat
dan ingin terdiam, terdiam, terdiam
dan akhirnya terdiam dengan yg gamang
warna-warni itu menggores hasil cipta yang tak berkarya, tak bernilai
maka terdiam, terdiam, terdiam
terdiam bukan sedih, bukan bahagia, bukan pula bergerak, bukan pula terhenti, dan bukan pula menggantung
terdiam memberikan ruang hati, terdiam memberikan ruh untuk memasuki dalam pertemuaNya, dan terdiam memberikan sejenak instuisi untuk mengingatNya, bukan karena moment tapi memang harus terdiam, bukan karena keinginan tapi memang hanya terdiam
diam jika usai tiba maka dia bergerak kembali dengan semangat menangguhkan keraguan, meneguhkan niat, serta bersikap dengan tepat, dan berproses dengan benar...semoga niat yang kokoh menumbangkan keegoan, menumbangkan keraguan, serta menumbangkan warna-warni yang tak berarti...
helaan nafas panjang....
bukan mengeluh tapi terdiam..
terdiam dengan cara-cara yang kurang tepat..
terdiam atas cara yang tepat
terdiam dengan kelemahan
terdiam atas kelebihan
terdiam atas keegoan
terdiam atas kelembutan
terdiam atas konsep
terdiam atas tak berkonsep
terdiam atas pola-pola yang kurang tepat
terdiam atas pola yang tepat
dan ingin terdiam, terdiam, terdiam
dan akhirnya terdiam dengan yg gamang
warna-warni itu menggores hasil cipta yang tak berkarya, tak bernilai
maka terdiam, terdiam, terdiam
terdiam bukan sedih, bukan bahagia, bukan pula bergerak, bukan pula terhenti, dan bukan pula menggantung
terdiam memberikan ruang hati, terdiam memberikan ruh untuk memasuki dalam pertemuaNya, dan terdiam memberikan sejenak instuisi untuk mengingatNya, bukan karena moment tapi memang harus terdiam, bukan karena keinginan tapi memang hanya terdiam
diam jika usai tiba maka dia bergerak kembali dengan semangat menangguhkan keraguan, meneguhkan niat, serta bersikap dengan tepat, dan berproses dengan benar...semoga niat yang kokoh menumbangkan keegoan, menumbangkan keraguan, serta menumbangkan warna-warni yang tak berarti...
Tuesday, July 17, 2012
persepsi dan alur serta proses
Persepsi itu
alhamdulillah..ini lah yang terucap dari alur yang sangat keras dapat melewatinya, setelah jalan panjang, berliku namun akhirnya sesi ini berakhir, ku hadapkan diri pada Sang Maha, lalu keluh kesah ini menyiratkan kerahman Nya, kasih sayang Nya yang tak terhingga, semua ada jalanNya, seraya hati menjawabNya, kemudian di disujudkan wajah ini, senyum indah mempesona dari Sang Maha dalam dekapan ketenangan, karena sejati hidup adalah ketenangan.semoga dapat melewati setiap alur dengan baik, walau terkadang hantaman angin menerpa tiada henti, caci maki atau persepsi buruk terhela nafas kemudian pergolakan batin akan suatu hal menjadikan lebih arif dalam menghadapi sesuatu, biarlah sudut pandang itu berceloteh, biarlah persepsi itu berceloteh dan biarlah pendapat itu berceloteh, namun dekapan Sang Maha seolah menarik tangan menyambut Nya dalam relung dalam, lalu Sang Maha menjawab, mengapa risau dengan cacian makian, mengapa risau dengan persepsi buruk, dan mengapa risau dengan nama baik, siapa yang lebih mengenal hambaNya selain PenciptaNya, dan manusia hanyalah sebatas pandang sedangkan Tuhan Mu tak pernah sebatas pandang, ku rangkai kata kata dalam naungan indah, dalam jalan berliku, semoga setiap langkah adalah benar, dan semoga setiap langkah tak pernah menyakiti sesama, biarlah orang lain menyakiti asalkan diri tak pernah menyakiti, yang tersamar pergilah dengan kesamaran mu, temui kepastian mu dengan jalan yang benar, berproses lah dengan benar, agar hasil dari sebuah proses itu benar yaitu tercapai, jika kau lelah dalam berproses, maka katakanlah ingin sejenak terdiam, lalu kembalilah dalam proses mu, jika ingin terhenti maka katakanlah ingin terhenti...
alhamdulillah..ini lah yang terucap dari alur yang sangat keras dapat melewatinya, setelah jalan panjang, berliku namun akhirnya sesi ini berakhir, ku hadapkan diri pada Sang Maha, lalu keluh kesah ini menyiratkan kerahman Nya, kasih sayang Nya yang tak terhingga, semua ada jalanNya, seraya hati menjawabNya, kemudian di disujudkan wajah ini, senyum indah mempesona dari Sang Maha dalam dekapan ketenangan, karena sejati hidup adalah ketenangan.semoga dapat melewati setiap alur dengan baik, walau terkadang hantaman angin menerpa tiada henti, caci maki atau persepsi buruk terhela nafas kemudian pergolakan batin akan suatu hal menjadikan lebih arif dalam menghadapi sesuatu, biarlah sudut pandang itu berceloteh, biarlah persepsi itu berceloteh dan biarlah pendapat itu berceloteh, namun dekapan Sang Maha seolah menarik tangan menyambut Nya dalam relung dalam, lalu Sang Maha menjawab, mengapa risau dengan cacian makian, mengapa risau dengan persepsi buruk, dan mengapa risau dengan nama baik, siapa yang lebih mengenal hambaNya selain PenciptaNya, dan manusia hanyalah sebatas pandang sedangkan Tuhan Mu tak pernah sebatas pandang, ku rangkai kata kata dalam naungan indah, dalam jalan berliku, semoga setiap langkah adalah benar, dan semoga setiap langkah tak pernah menyakiti sesama, biarlah orang lain menyakiti asalkan diri tak pernah menyakiti, yang tersamar pergilah dengan kesamaran mu, temui kepastian mu dengan jalan yang benar, berproses lah dengan benar, agar hasil dari sebuah proses itu benar yaitu tercapai, jika kau lelah dalam berproses, maka katakanlah ingin sejenak terdiam, lalu kembalilah dalam proses mu, jika ingin terhenti maka katakanlah ingin terhenti...
Tuesday, June 19, 2012
sempit
seharian menulis
dalam tarian sang wanita agung, menyiratkan karya-karya yang agung sebagai bentuk apriasi karya yang berarti kelak, inspirasi itu berasal detik demi detik cerita setiap sesi yang terlewati, bahagia merupakan bentuk eksotik hiperbola dari seorang penulis, mengalun biru layak bercermin dalam rangkaian cerita, takkan bisa berhenti karena inilah aku, dan aku tergambar luas samudera yang terangkai dari sesi yang tercipta sebelumnya, ya Sang Maha penentu, dan aku hanya hamba yang sedang menantikan keabadian kelak bersamaNya, dalam penantian tertoreh karya yang bermanfaat dalam kebersamaan, lalu apa yang dikhawatirkan? wanita dengan berbagai sudut pandang, tergambar dlm naskah-naskah perjuangan, terlalu dini penilaian, terlalu dini menyimpulkan, dan terlalu sempit menggambarkan, terlalu dini mengambil langkah, hanya candaan, dan hanya korban keresahan, dan hanya korban permainan semata, lalu di simpulkan, tertawa kecil, renyah terhadap sebuah penafsiran, apa yang ada di benak sempit itu? ya.... terlalu berkomtemplasi dengan makna yang tipis, ya terlalu sibuk dengan keegoannya lalu tak pernah membuka pola-pola alur, dan terlalu dini untuk menilai, ku ulurkan tangan sebagai kata keramahan sebagai insan, tak pernah berlebih dan tak pernah berharap berlebih, sejati keputusan di pikirkan lebih matang, agar kelak tidak menjadi sesal, ku tahu Tuhan ku tak pernah membiarkan ku, Dia selalu mendekap ku, Dia selalu memberikan kesempatan yang selalu di sia-siakan, ampun aku Robb dalam sujud ku...terseduh sedan dalam kehinaan serta penyesalan yang tiada berarti, Robb dalam diam hanya Mu yang mengisi ku
Ku tawarkan ia senyum
Ku tawarkan ia senyum
Sudah lama tak tergores tinta karena menderu, meratap serta
berlogika, kembali ia mengirimkan sebuah tulisan yang bermakna, tak pernah
melihat apa isi tulisan itu, karena lalu lalang kegiatan menyita sendi tubuh
ku, mengingat kan akan usang bahasa yg tertata rapi sarat dengan filsafati,
bermakna menandakan ia berpikir..layak Thomas Kuhn yang mencari kebenaran akan
kepuasan dari kesamaran, ku hela nafas teringat usang tentang sosoknya,
ya..sosok yang tak pernah tahu,dan lelah dengan sebuah kata yang tersirat, usang membuat teka teki berlalu tanpa peduli,
dan ia terhilang di telan lalu lalang kegiatan serta hilir mudik sosok. Cerita yang
tak bergeming, perlahan kembali dalam maya ku, ku lihati satu kata, satu
kalimat demi kalimat, lalu ku baca hati ku, tercipta keindahan tentangnya
mengingat usang, sifat marahnya, atau bahasa yang selalu memprotes sudut
pandang, ya pria gombal penarik wanita, itulah sosok mu, bahasa mu untuk setiap
keindahan yang datang dan entah sampai kapan tersirat itu kau lontarkan, dan
entah sampai kapan kau selalu membuat puisi kegombalan, dan entah sampaikan
kapan kau selalu memprotes sudut pandang ku…pria, pria dan pria dibalik hilir
mudik menata masa depan, sosok ku digambarkan sebagai anak abg yang sedang di
landa kegalauan, kebimbangan dan keraguan, ku senyumkan ia…lalu senyum indah
ini menantikan ia menghentikan kegalauan ku, kebimbangan ku serta keraguan ku…ah
dimana rasa? Entahlah rasa ini tak pernah tertatih, cepat berganti seiring
musim berganti. Dan sampai kapan bertepi?
Sunday, April 15, 2012
puisi untuk mu
Puisi untuk mu
Cinta itu hadir kembali setelah menjauh
Cinta itu dirasa ketika jauh dari mu
Cinta itu mendayu-dayu
Cinta menggeroti pikiran
Disela-sela ruang kesibukan hadir nama mu…
Disela-sela mengejar mimpi hadir bayangan diri mu
Teringat setiap pembicaraan dengan mu
Ku ingat momen-momen itu hingga senyum-senyum sendiri tanpa sadar
Aku malu…saat diri terlampau merasa rasa
Hadiah kecil itu untuk mu…
Namun aku tak berani berani untuk memberinya
biarlah hadiah itu tetap tersimpan rapi di lemari
hingga takdir menyatukan
aku akan memberinya dengan senyum merekah
sertai keberanian atas nama mu Allah
atas nama cinta seorang isteri kepada imamnya kepada suaminya
Wednesday, March 14, 2012
perjalanan itu panjang tajam dan berkerikil....
Air mata itu telah habis
beban itu berat, serta tak kuasa menahan hingga lemah
ditengah kehausan dipadang pasir yang kering kerontang
terdiam terbawa dalam surgawi...
mengingat usai...
laut biru hamparan
kicauan yg mewarna
lorong itu panjang tiada habis
pasrah dengan keadaan
lalu lemah...
letih...
terserah...
wanita usang....dimakan waktu
ingin menyatu NYA, dibawaNYA, bersamaNYA, dibawah kaki tujuh langit, mengawang bersamaNYA, berlari bersamaNYA
Air mata itu telah habis
beban itu berat, serta tak kuasa menahan hingga lemah
ditengah kehausan dipadang pasir yang kering kerontang
terdiam terbawa dalam surgawi...
mengingat usai...
laut biru hamparan
kicauan yg mewarna
lorong itu panjang tiada habis
pasrah dengan keadaan
lalu lemah...
letih...
terserah...
wanita usang....dimakan waktu
ingin menyatu NYA, dibawaNYA, bersamaNYA, dibawah kaki tujuh langit, mengawang bersamaNYA, berlari bersamaNYA
Tuesday, March 13, 2012
terhempas, terlupa, karena mencoba membaca ternyata hilang, kemudian bayangan itu muncul seketika...dan teringat lagi, tak ingin membaca, tak ingin mencari, tak ingin menduga biarlah ia....
bila bertanya adanya andaian....
andai....
andai...
andai...
dan titik itu yang menjawab cuma mu....
dan titik itu yang menjawab cuma Mu
tak pernah ingin mengetahui lebih dalam
dan aku terdiam menyimpan....
ketika itu kembali rasa ini tenang, bahagia, ketika rasa itu kembali bersinar...
dan aku mendamai bagai kekerasan yang mencair...
dan aku bertemu air menghilang bagai kehausan dipadang pasir....dan katakan pada Pemilik Hidup berilah sepanjang hayat ini ketenangan dalam setiap sesi cerita....
cuma mendoa seraya permintaan pertemukan dengan Cinta Abadi dengan perasaan damai menuju jalan Mu....untuk yg sebulan lalu pernah terbesit rasa.
bila bertanya adanya andaian....
andai....
andai...
andai...
dan titik itu yang menjawab cuma mu....
dan titik itu yang menjawab cuma Mu
tak pernah ingin mengetahui lebih dalam
dan aku terdiam menyimpan....
ketika itu kembali rasa ini tenang, bahagia, ketika rasa itu kembali bersinar...
dan aku mendamai bagai kekerasan yang mencair...
dan aku bertemu air menghilang bagai kehausan dipadang pasir....dan katakan pada Pemilik Hidup berilah sepanjang hayat ini ketenangan dalam setiap sesi cerita....
cuma mendoa seraya permintaan pertemukan dengan Cinta Abadi dengan perasaan damai menuju jalan Mu....untuk yg sebulan lalu pernah terbesit rasa.
Saturday, February 25, 2012
manusia adalah tanah akan kembali pada tanah
bercerita tentang ini tak habis-habisnya, berlalu lalang bagai episode yang tak henti-henti, yup itulah perjuangan dalam sebuah impian, masa depan, jika Allah masih membolak-balik ya ikuti skenarionya, yang terpenting tetap syar'i dan menjaga adat istiadat, terkadang lelah namun Sang Maha selalu memberi kekuatan, ayo bangkit, berusaha lagi, yakinkan hati, kelak usaha yang ditanam hari ini menuai hari esok, yakinkan hati, dalam sebuah impian yang harus di lakukan terlebih dahulu adalah keyakinan, niat terhadap menggapai masa depan itu sungguh-sungguh, kemudian tentukan target dalam level kemampuan kita, dan yang terutama rendahkan hati, keikhlasan hati, jangan pernah menyombongkan bahkan merendahkan orang lain, karena hakikat manusia adalah tanah kita bisa berpikir apa itu tanah dan persepsi tanah itu sendiri, dan ketika tanah bisa menghasilkan tumbuhan itulah yang disebut manusia manfaat, dan kelak tanah menyambut jasad nya penuh dengan wewangian khas surga, dalam kesturi indah, jika persepsi bahagia hanya di nilai dengan harta, uang, pangkat, jabatan atau ketampanan atau kecantikan, atau kesholihan yang diagungkan, maka cari lah itu semua dengan ke egoan mu, dengan keangkuhan mu, ikutilah mau mu, dan puaskan lah diri mu tentang pencarian itu semua, itu persepsi mu dan kebahagiaan menurut mu, hingga tanpa kau sadari bahwa kau hanya seorang tanah yang kusam hingga nanti bila kau kembali pada tanah itu, seolah tanah itu menolak karena kesombongan atau tujuan harta mu hanya kebahagiaan semu,bahkan tanpa kau sadari kau mengatakan harta ku tuk berjuang di jalan Allah tapi yang sebenarnya adalah harta tujuan kebahagian mu dengan kau menyombongkan diri dihadapan yang lemah, dan kau menyedekah harta mu agar dilihat orang lain, agar pandangan orang lain terhadap mu adalah seorang yang sholeh, dan dermawan hingga bangga terhadap diri sendiri menggeroti hakikat manusia yang pada dasarnya adalah tanah, hingga jabatan mu membuat mu bangga tiada habisnya, bahkan kau sangat menghormati orang yang melebihi jabatan mu dari pada Sang Pemberi jabatan, dan tak pernah terlintas dalam pemikiran harta seketika bisa habis, jabatan itu seketika bisa hilang, jika roda-roda dunia berputar, dan kau tak menyadari itu bahwa kita ini hanyalah hamba yang sedang melakoni sebuah cerita yang berganti dan semu semata, dan cuma Allah yang tiada semu, dan kau hanya mempersepsikan kehidupan dengan keegoan mu tanpa berpikir sebenarnya kita hanyalah tanah dan kembali pada tanah, dan skenario itu berlalu lalang tiada henti, apakah harta, jabatan bisa mengubah skenario Allah? jawablah dalam hati nurani? dan ketika keelokan rupa menjadi kebanggaan mu, menjadi tujuan hidup mu, agar kau bangga memamerkan dihadapan teman mu, relasi mu, maka tanyakan pada nurani mu, apakah keelokan rupa merupakan takdir yang dibanggakan? silakan ikutilah ego mu jika keelokan rupa tujuan hidup mu, maka carilah ia puaskan lah ia, banggakan lah ia dihadapan teman mu, hingga kau puas maka, jika kedamaian berasal dari keelokan rupa, apakah kesedihan akan hilang sekejap dengan keelokan rupa, apakah roda-roda itu akan berputar diatas terus karena keelokan rupa? kalau benar katakan pada Allah aku mencintai dia karena rupawan, dan rupawan hanyalah tanah, lalu datanglah aku mencintai dia karena kesholihannya, dia tak pernah salah, dia tak pernah berdosa, dan dia orang yang suci selalu mengagungkan kesuciannya bahkan bangganya ketika dia berbuat baik, tanpa dia sadari bahwa dia ujub terhadap dirinya sendir, dan merasa dirinya adalah baik dengan menunjukkan amalan-amalan yang dia lakukan, dan kebanggaan dalam hidupnya, jika ujub terhadap ibadah, aqidah serta syariat tidak boleh dilakukan jika sekedar saja yang niatnya sebagai dakwah tak menjadi masalah tapi ketika ujub membanggakan dirinya karena merasa paling benar, paling suci, tak pernah berpikir asal dirinya berasal dari tanah dan hakikat tanah...maka sederhanalah konsep dalam persepsi harta, jabatan, keelokan dan kesholihan...
Wednesday, February 1, 2012
rasa keindahan terpatri pada saat ini
mengenalmu...sejak lama, tak pernah ingin dan tak pernah terpikir
entah mengapa sejak akhir-akhir ini diri itu terbayang-bayang dalam sebuah rasa
merasakan nya tak pernah berpikir untuk sebuah rasa, tak disengaja, dan mengalir layaknya alunan merdu
gugup, gelisah, terbayang hingga sastra mengalir apa adanya, merasakan natural, alami dan bukanlah kepalsuan
ku tanya jiwa apa yang membawa diri hingga kepadanya, entahlah...
ku nikmati, sabagai kesucian cukup itu
kepasrahan
keikhlasan pada pemilikNya
Rasa ini hanya rasa
tak memiliki keinginan karena keinginan ini hanya milik Nya
Kecintaan ini dipupuk karena Allah...
dan jika aku memiliki mu kelak karena Allah
cara Allah menyatu
entah mengapa sejak akhir-akhir ini diri itu terbayang-bayang dalam sebuah rasa
merasakan nya tak pernah berpikir untuk sebuah rasa, tak disengaja, dan mengalir layaknya alunan merdu
gugup, gelisah, terbayang hingga sastra mengalir apa adanya, merasakan natural, alami dan bukanlah kepalsuan
ku tanya jiwa apa yang membawa diri hingga kepadanya, entahlah...
ku nikmati, sabagai kesucian cukup itu
kepasrahan
keikhlasan pada pemilikNya
Rasa ini hanya rasa
tak memiliki keinginan karena keinginan ini hanya milik Nya
Kecintaan ini dipupuk karena Allah...
dan jika aku memiliki mu kelak karena Allah
cara Allah menyatu
Sunday, January 8, 2012
Bakul Nasi seorang perempuan
Gadis itu..gadis sederhana, gadis itu gadis umumnya, dia hanya seorang gadis biasa, dia gadis yang terkadang ingin menampilkan utuh ia sebagai gadis, terkadang ia menangis layak tersedu, terkadang ia tertawa bila kegembiraan menghampiri, terkadang bedak dan lipstick ia pakai tertanda dia ia ingin tampil sebagai layak keindahan seorang wanita, terkadang ia ingin dilihat lawan jenis agar tampil menariknya, tapi tak terpikir olehnya untuk merayu, menggoda bahkan berlebih dalam sebuah sikap,dan terkadang ia cuek dgn jerawatnya ingin tampil apa adanya, inilah aku dengan tanpa bedak dan lipstick, ia hanyalah gadis yang suka akan keromantisan dari suasana, terkadang ia pula membutuhkan ketegasan, ia hanya layaknya gadis yang terkunkung dalam sebuah midset paradigma sebagai karakternya serta pilihan hidupnya, dia adalah gadis terkadang lugu dan terkadang karena sebuah pengalamannya membuat keluguan itu memudar, sebagai sebuah pengetahuan atas realita hidup, ketika bersemayam suatu gelombang hidup, layaknya manusia umumnya, gadis itu bermain mindset itu, layaknya manusia ketika sesuatu yang baru menghampiri ia akan bingung, bahkan asing disitu ada pujian, cibiran, layak garis hidup bercerita, berjalan sesuai alurnya, ketika dia lemah dia tak meiliki semangat dalam waktu bahkan sikap nekat itu, seraya lamunan panjang, lalu menatap langit, langit mengapa kental hitam, bahkan razam, aku tak sanggup, sampai kapan begini, akhirnya ia hanya meratapi kemudian ia tatap alam serasa luas dan begitu luas pula permasalahannya, ah…..damaikan hati, damaikan pikiran, seraya melugukan pikiran dgn tertawa riuh lawakan yang menggembirakan sesaat namun ketika muncul kembali, maka dia akan memikirkan bahkan terhimpit, bahkan surat Tuhan membuat garis-garis lalu terkadang ia puji dirinya, terkadang ia salahkan dirinya, singkat terasa, baru kemarin ia rasakan pikiran yg tidak tahu dan sekarang ia tahu, sesi2 hidup membuat dia tahu tentang alur cerita, ah..serasa ingin menjadi anak yang baru lahir yg hanya ingin merasa makan, dan lapar serta komunikasi yg hanya menangis dan tertawa…ah itu masalalu dan sekarang adalah sekarang yg harus ditatapi, dia bukan perayu dia bukan penggoda, dan dia menjunjung tinggi sebuah sikap, bukan harta, jabatan, serta ketampanan, itu semua semu, gadis itu, gadis yang fair, katakana iya dia akan menjalaninya sebaik-baiknya, katakana tidak dia akan mundur, dan dia akan meninggalkan pula kata diantara iya dan tidak…dan dia menganngap semua ini sempit tak tertata rapi..ia hanya menjadi sebuah bakul nasi, bakul nasi yang terbuat sederhana tapi mengisi kebutuhan setiap manusia…bakul nasi itu tak menarik tapi selalu dibutuhkan tertata diatas meja bersama lauk pauk menjadi sebuah energy, energy yang digunakan dalam putaran waktu hingga semua berakhir, hingga tanah menyatunya….hingga itulah nasi tak dikonsumsi lagi…..
Subscribe to:
Posts (Atom)