dalam tarian sang wanita agung, menyiratkan karya-karya yang agung sebagai bentuk apriasi karya yang berarti kelak, inspirasi itu berasal detik demi detik cerita setiap sesi yang terlewati, bahagia merupakan bentuk eksotik hiperbola dari seorang penulis, mengalun biru layak bercermin dalam rangkaian cerita, takkan bisa berhenti karena inilah aku, dan aku tergambar luas samudera yang terangkai dari sesi yang tercipta sebelumnya, ya Sang Maha penentu, dan aku hanya hamba yang sedang menantikan keabadian kelak bersamaNya, dalam penantian tertoreh karya yang bermanfaat dalam kebersamaan, lalu apa yang dikhawatirkan? wanita dengan berbagai sudut pandang, tergambar dlm naskah-naskah perjuangan, terlalu dini penilaian, terlalu dini menyimpulkan, dan terlalu sempit menggambarkan, terlalu dini mengambil langkah, hanya candaan, dan hanya korban keresahan, dan hanya korban permainan semata, lalu di simpulkan, tertawa kecil, renyah terhadap sebuah penafsiran, apa yang ada di benak sempit itu? ya.... terlalu berkomtemplasi dengan makna yang tipis, ya terlalu sibuk dengan keegoannya lalu tak pernah membuka pola-pola alur, dan terlalu dini untuk menilai, ku ulurkan tangan sebagai kata keramahan sebagai insan, tak pernah berlebih dan tak pernah berharap berlebih, sejati keputusan di pikirkan lebih matang, agar kelak tidak menjadi sesal, ku tahu Tuhan ku tak pernah membiarkan ku, Dia selalu mendekap ku, Dia selalu memberikan kesempatan yang selalu di sia-siakan, ampun aku Robb dalam sujud ku...terseduh sedan dalam kehinaan serta penyesalan yang tiada berarti, Robb dalam diam hanya Mu yang mengisi ku
Tuesday, June 19, 2012
Ku tawarkan ia senyum
Ku tawarkan ia senyum
Sudah lama tak tergores tinta karena menderu, meratap serta
berlogika, kembali ia mengirimkan sebuah tulisan yang bermakna, tak pernah
melihat apa isi tulisan itu, karena lalu lalang kegiatan menyita sendi tubuh
ku, mengingat kan akan usang bahasa yg tertata rapi sarat dengan filsafati,
bermakna menandakan ia berpikir..layak Thomas Kuhn yang mencari kebenaran akan
kepuasan dari kesamaran, ku hela nafas teringat usang tentang sosoknya,
ya..sosok yang tak pernah tahu,dan lelah dengan sebuah kata yang tersirat, usang membuat teka teki berlalu tanpa peduli,
dan ia terhilang di telan lalu lalang kegiatan serta hilir mudik sosok. Cerita yang
tak bergeming, perlahan kembali dalam maya ku, ku lihati satu kata, satu
kalimat demi kalimat, lalu ku baca hati ku, tercipta keindahan tentangnya
mengingat usang, sifat marahnya, atau bahasa yang selalu memprotes sudut
pandang, ya pria gombal penarik wanita, itulah sosok mu, bahasa mu untuk setiap
keindahan yang datang dan entah sampai kapan tersirat itu kau lontarkan, dan
entah sampai kapan kau selalu membuat puisi kegombalan, dan entah sampaikan
kapan kau selalu memprotes sudut pandang ku…pria, pria dan pria dibalik hilir
mudik menata masa depan, sosok ku digambarkan sebagai anak abg yang sedang di
landa kegalauan, kebimbangan dan keraguan, ku senyumkan ia…lalu senyum indah
ini menantikan ia menghentikan kegalauan ku, kebimbangan ku serta keraguan ku…ah
dimana rasa? Entahlah rasa ini tak pernah tertatih, cepat berganti seiring
musim berganti. Dan sampai kapan bertepi?
Subscribe to:
Posts (Atom)