woman sholihah
Monday, April 22, 2013
bukan galau
maaf maaf dengan kesucian...real adalah karya manfaat untuk kemaslahatan hidup, agar ketika nafas berakhir alfatihah selalu membasuhi tanah merah dlm peristirahatan terakhir,tak ingin tergulung dalam rantauan samudera, karena berdiri tegak bersamaNYa, dan maaf maaf tak ingin terbuaian lebih baik diam bersamaNya, bukan menghapus, bukan pula menghilangkan, bukan pula melupakan esensi manusiawi, jika Allah berkenan,jika Allah mentakdirkan maka waktu itu akan datang pada saatnya mengapa terus merenung, mengapa terus berkonsep, dan mengapa terus berceloteh padahal nanti saat nya bertemu jua,karena hidup bak titah dan hanya ada kata cukup bergerak kemudian bergerak dan bergerak, alur itu berjalan sendiri, ritme berjalan apa adanya. hanya sujud lalu peluk bersama Pemilik Kehidupan, Raja Kehidupan, dekapan erat
sujudkan
tahanus sergap ku seketika..melayang-melayang...
bukan karena terdiam atau tak bergerak, tapi mensucikannya
meringis, merintih, lemah tak berdaya atas liar seliarnya
kembalikan dalam konsentrasi yang utuh,...
sujudkan aku..
luruskan aku...
kembalikan aku. dalam fitrah Mu
walau esensi ku sebagai manusia
tapi dengan Mu resah ini hilang, kegelisahan ini mereda...
pagarkan dengan Ruh Mu...
yang ada cuma Mu...
air mata mengalir sedih meratapkan diri...
bukan karena terdiam atau tak bergerak, tapi mensucikannya
meringis, merintih, lemah tak berdaya atas liar seliarnya
kembalikan dalam konsentrasi yang utuh,...
sujudkan aku..
luruskan aku...
kembalikan aku. dalam fitrah Mu
walau esensi ku sebagai manusia
tapi dengan Mu resah ini hilang, kegelisahan ini mereda...
pagarkan dengan Ruh Mu...
yang ada cuma Mu...
air mata mengalir sedih meratapkan diri...
Saturday, January 19, 2013
Puisi-puisi indah
Lampu Jalan
Karya : Yudhie Yacho
Tanpa Sepengetahuanmu
Karya : Laitul Kiptiyah
ada yang telah kusimpan
secara diam-diam
seperti puisi-puisi, buku-buku
juga percakapan-percakapan
denganmu
hingga ketika senja membuka jendela kamarku
dan guguran daun menyapu punggung sabtu
yang berdebu
maka kembali aku dekat
dengan semuanya itu
tak perlu kau menanam takut
atau menakar nyeri:
aku tergeletak sendiri
dingin dan sepi
Karya : Yudhie Yacho
ia berdiri dalam kesendirian
menunggu kesepian
di bawah lampu jalan
menunggu kesepian
di bawah lampu jalan
di trotoar berubin petak marmer hitam
ia mencoba berjalan melemaskan badan
sambil menghitung berapa lama menghabiskan
waktu yang telah terlewatkan
ia mencoba berjalan melemaskan badan
sambil menghitung berapa lama menghabiskan
waktu yang telah terlewatkan
ada sedikit harapan
yang ditunggunya akan datang
ketika sebuah mobil melaju pelan
yang ditunggunya akan datang
ketika sebuah mobil melaju pelan
ia mencoba mengingat
kapan terakhir bersepakat
untuk bersama menghabiskan malam
berdua dengan berjalan-jalan di taman
kapan terakhir bersepakat
untuk bersama menghabiskan malam
berdua dengan berjalan-jalan di taman
kadang ia sungguh merasa bosan
menunggu dibatas kesanggupan
namun dengan penuh keyakinan
ia akan melunaskan apa yang dijanjikan
menunggu dibatas kesanggupan
namun dengan penuh keyakinan
ia akan melunaskan apa yang dijanjikan
lamat-lamat ia mendengar gumam
nyanyian kidung puja-puji mengalun merdu
tak terlampau jauh dari telinganya yang panjang
dan sebuah berkah yang tak terkirakan
kekasih yang datang membawa senyuman
nyanyian kidung puja-puji mengalun merdu
tak terlampau jauh dari telinganya yang panjang
dan sebuah berkah yang tak terkirakan
kekasih yang datang membawa senyuman
Tanpa Sepengetahuanmu
Karya : Laitul Kiptiyah
ada yang telah kusimpan
secara diam-diam
seperti puisi-puisi, buku-buku
juga percakapan-percakapan
denganmu
hingga ketika senja membuka jendela kamarku
dan guguran daun menyapu punggung sabtu
yang berdebu
maka kembali aku dekat
dengan semuanya itu
tak perlu kau menanam takut
atau menakar nyeri:
aku tergeletak sendiri
dingin dan sepi
Wednesday, November 21, 2012
Menata dan bergerak serta mencari
terdengar sayup berita duka dari ujung sana, setelah sekian waktu dalam kesemuan, ternyata doa ku terjawab, aku ingin berjalan di keterangan yang tanpa kesemuan diantara iya dan tidak, ku temui jawaban tidak walau perih, walau waktu terbuang sia-sia, menginstropeksi mengapa tidak, ternyata yang disana kumuh, dan Tuhan melindungi ku dari kekumuhan itu, bangkit dengan terluka, bangkit diatas cita-cita yang menuai perjalanan yang lelah, dan bangkit diatas kemuakan situasi, dan bangkit diatas kemuakan ego, yang tak pernah henti dan aku masuk dalam lingkaran itu. ternyata diam ku, rasa tak perduli ku serta keletihan ku terhadap keadaan itu membuat alur ini semakin tajam menghujam bak titik akumulasi sebuah sesi yang harus di jalani,berusaha meruntuhkan ketidak tenangan atas sesi ini, sebagai insan yang tak berdaya lemah, rapuh, bahkan air mata mengalir tiada henti di akhir-akhir ini sebagai ratapan cerita hidup yang tak henti-hentinya, semoga ratapan tak henti-henti ini bisa melewatinya, menata kembali, membiasakan diri dengan sesi ini, serta tetap tenang dan bergerak maju dengan sesi ini,karena perjalanan masih panjang, hanya selalu terucap seraya rasa lemah di raih Sang Penguat agar keikhlasan terhadap sesi ini semoga bisa melewatinya dan senyum itu kembali seperti sedia kala.
ya... move on meletakkan rasa-rasa lemah itu dengan cara move on, ada hal yang lebih penting yang harus di capai agar waktu meloloskan setidaknya satu beban terselesaikan, dan yang terpenting membangun pondasi keyakinan sejak dini agar ketika selesai dapat melangkah pasti bersama keyakinan, dalam hal ini belajar dari sebuah pengalaman tak ingin sebuah kesemuan, dan tak ingin sebuah kelikuan dalam cerita...berjalan layaknya bukan mimpi atau harapan semu, mengusahakan, bergerak dengan waktu yang bisa terukur. dan tindakan nyata merupakan hentian untuk keraguan, peganglah niat ku diatas usaha nyata seorang kesatria yang mempertahan aku sebagai pilihannya kelak, hingga tak lengah, hingga menjatuhkan hati padanya saja, meyakinkan bahwa kesatria itu memilihku dengan keyakinan serta kesungguhan yang semata mengharap ridho Allah semata dan aku pun memilihnya. semoga tulisan ini mewakili sikap diri, sesungguh jika Allah berkenan diatas usaha layaknya wanita yang menggapai cinta Illahi yang abadi diatas niat suci. bukan harta, tahta serta rupa hanya mengharap ridho Allah semata, bukan pula kumuh, bukan pula mengemis, bukan pula kesendirian yang tak beretika tapi ini semua merupakan etika dalam menggapai ridho Allah semata. ^_^
ya... move on meletakkan rasa-rasa lemah itu dengan cara move on, ada hal yang lebih penting yang harus di capai agar waktu meloloskan setidaknya satu beban terselesaikan, dan yang terpenting membangun pondasi keyakinan sejak dini agar ketika selesai dapat melangkah pasti bersama keyakinan, dalam hal ini belajar dari sebuah pengalaman tak ingin sebuah kesemuan, dan tak ingin sebuah kelikuan dalam cerita...berjalan layaknya bukan mimpi atau harapan semu, mengusahakan, bergerak dengan waktu yang bisa terukur. dan tindakan nyata merupakan hentian untuk keraguan, peganglah niat ku diatas usaha nyata seorang kesatria yang mempertahan aku sebagai pilihannya kelak, hingga tak lengah, hingga menjatuhkan hati padanya saja, meyakinkan bahwa kesatria itu memilihku dengan keyakinan serta kesungguhan yang semata mengharap ridho Allah semata dan aku pun memilihnya. semoga tulisan ini mewakili sikap diri, sesungguh jika Allah berkenan diatas usaha layaknya wanita yang menggapai cinta Illahi yang abadi diatas niat suci. bukan harta, tahta serta rupa hanya mengharap ridho Allah semata, bukan pula kumuh, bukan pula mengemis, bukan pula kesendirian yang tak beretika tapi ini semua merupakan etika dalam menggapai ridho Allah semata. ^_^
Monday, October 29, 2012
nyata
heningan malam..membuat kaku seiring kata-kata yang penuh dengan tanda tanya
pernah bertanya tapi terasa sulit...terasa kusutan benang yang ingin sekali di luruskan namun terasa perjuangan itu, berusaha memaksimalkan meluruskan hingga entah bagaimana caranya, terkadang bertanya sekeras inikah...sekusut inikah...bertahan lamanya, berhenti, pergi dan datang kembali, apa yang salah tak pernah tahu, bagaimana jalannya tak tahu..seolah pertanyaan yang semu itu menohok tenggorokan, seolah semua tertuju pada kesalahan yang bertubi-tubi. apa yang salah..apa dan bagaimana seolah tak habisnya, lelah, letih, dengan kesemuan ini, dengan ketakmenentuan, seolah cabik-cabik yang tiada henti, Hanya Raja ku yang membuat ketenangan di ketakmampuan ini, tak kemampuan seorang manusia, seorang wanita yang entah seperti apa, bagaiaman, bagai liku - liku yang tak menuai arah, apa mau??? hendak apa??? untuk apa??? atau memang terlalu bermain dikedalaman, dan terperosok dalam sebuah ketakpastian....merindu kebebasan diri dari keteperosokan, dari kesemuan, terbang bebas dengan sayap-sayap lepas tanpa ketakjelasan, bukan pula iya dan tidak tapi iya dengan bebas dan tidak dengan bebas, dan jangan katakan sebab itu ada pada ku, dan jangan katakan karena sebuah kesalahan ku, atau permainan ku...dan jangan salahkan aqu
Sunday, September 16, 2012
Begitulah negeri
Negeri tercinta…
Dengan senyum ibu pertiwi
Dengan lambang suci serta keberanian yang benar
Suci yang putih menunjukkan keberagamaan yang benar-benar
suci berasal dari illahi semata
Maka di kesucian itu mencerminkan etka-etika yang dijunjung
tinggi
Anak-anak negeri yang lugu, senyum manis yang mengembang
yang suci
Yang kelak akan memimpin negeri
Namun…
Kesucian itu terkadang di gunakan dengan kepentingan yang
hitam kental yang lusuh
Bahkan Tuhan ku di jual demi hitam kental yang lusuh
Bahkan haknya si tak mampu diambil demi hitam kental yang
lusuh
Dan jeritan-jeritan kelusuhan seolah mencerminkan kebenaran
tapi sebenarnya hitam kental yang lusuh
Lalu anak negeri bertanya begitu kah sikap yang benar???
Anak yang lugu penug dengan metamorfase kehidupan yang
disajikan tontonan hitam kental
Maka wajar…jika si anak negeri saling pukul, memukul, bahkan
nyawa pun melayang diatas kehitaman dan husnul khotimah dan melekat dalam
kematiannya
Sayang seribu sayang telah hilang sosok negeri kesucian
Sayang seribu sayang ketika pelajaran agama an budi pekerti hanya
berupa teori yang tak teraplikasikan
Serta yang ada contoh-contoh hitam kental yang ditampilkan
Terasa tak ada arah dimana hakikat kesucian
Maka apa yang terjadi kelak dalam hitungan waktu tradisi
hitam kental masih mentradisi
Anak negeri yang malang, yang bermertamorfase hitam kental
yang lusuh sayang seribu sayang
Contoh teladan yang hilang sayang seribu sayang
Sunday, July 22, 2012
terdiam
alhamdulillah terdiam
helaan nafas panjang....
bukan mengeluh tapi terdiam..
terdiam dengan cara-cara yang kurang tepat..
terdiam atas cara yang tepat
terdiam dengan kelemahan
terdiam atas kelebihan
terdiam atas keegoan
terdiam atas kelembutan
terdiam atas konsep
terdiam atas tak berkonsep
terdiam atas pola-pola yang kurang tepat
terdiam atas pola yang tepat
dan ingin terdiam, terdiam, terdiam
dan akhirnya terdiam dengan yg gamang
warna-warni itu menggores hasil cipta yang tak berkarya, tak bernilai
maka terdiam, terdiam, terdiam
terdiam bukan sedih, bukan bahagia, bukan pula bergerak, bukan pula terhenti, dan bukan pula menggantung
terdiam memberikan ruang hati, terdiam memberikan ruh untuk memasuki dalam pertemuaNya, dan terdiam memberikan sejenak instuisi untuk mengingatNya, bukan karena moment tapi memang harus terdiam, bukan karena keinginan tapi memang hanya terdiam
diam jika usai tiba maka dia bergerak kembali dengan semangat menangguhkan keraguan, meneguhkan niat, serta bersikap dengan tepat, dan berproses dengan benar...semoga niat yang kokoh menumbangkan keegoan, menumbangkan keraguan, serta menumbangkan warna-warni yang tak berarti...
helaan nafas panjang....
bukan mengeluh tapi terdiam..
terdiam dengan cara-cara yang kurang tepat..
terdiam atas cara yang tepat
terdiam dengan kelemahan
terdiam atas kelebihan
terdiam atas keegoan
terdiam atas kelembutan
terdiam atas konsep
terdiam atas tak berkonsep
terdiam atas pola-pola yang kurang tepat
terdiam atas pola yang tepat
dan ingin terdiam, terdiam, terdiam
dan akhirnya terdiam dengan yg gamang
warna-warni itu menggores hasil cipta yang tak berkarya, tak bernilai
maka terdiam, terdiam, terdiam
terdiam bukan sedih, bukan bahagia, bukan pula bergerak, bukan pula terhenti, dan bukan pula menggantung
terdiam memberikan ruang hati, terdiam memberikan ruh untuk memasuki dalam pertemuaNya, dan terdiam memberikan sejenak instuisi untuk mengingatNya, bukan karena moment tapi memang harus terdiam, bukan karena keinginan tapi memang hanya terdiam
diam jika usai tiba maka dia bergerak kembali dengan semangat menangguhkan keraguan, meneguhkan niat, serta bersikap dengan tepat, dan berproses dengan benar...semoga niat yang kokoh menumbangkan keegoan, menumbangkan keraguan, serta menumbangkan warna-warni yang tak berarti...
Subscribe to:
Posts (Atom)