Monday, May 30, 2011

cerita lucu dipagi hari

setiap tulisan yang dibuat sebagai bentuk pelatihan diri bagaimana cara menulis yang baik serta koleksi penulis yang memang hobinya menulis, serta sebuah metamorfosa rangkaian cerita kehidupan dengan menekankan cara pandang, sudut pandang tanpa meninggalkan kesan menampilkan jati diri atau ekspresi keadaan diri hanya sebuah cerita semata....
pagi yang melucukan...
pagi itu sebuah rencana telah dibuat, rencana 2 minggu yang lalu, setelah lama tak bersatu dengan alam, hanya bekutat dengan rutinitas yang mesti dijalani, ketika waktu terhenti hanya diam dan selalu belajar dengan sesuatu yang baru... cukup jenuh tapi sebuah keinginan, sebuah cita cita harus digapai dengan kesadaran dan cara-cara yang harus ditempuh, pagi itu sebelum tabuh berbunyi mata sudah terbuka, dan sudah menjadi kebiasaan bahwa malam tak hanya untuk lelap tapi disitu ada malam yang indah yaitu penyatuan diri, terkadang rasa berat menghampiri tapi entah mengapa mata ini tak terpejam dengan rapatnya, sudah menjadi kebiasaan walau kodrat ada pada seorang wanita setiap bulan namun pembiasaan itu tetap terjadi, selelah apapun, diawali dengan membersihkan diri, lalu sarapan hanya segelas susu, ku langkahkan kaki, tak lupa pamit kepada bunda tercinta, my mom tahu kalau hari ini rencana liburan, dan tidak membawa kendaraan sendiri, rumah yang jauh dari lalulalang kendaraan, agak sulit dipagi hari untuk memulai aktivitas, dan akhirnya jalan satu2nya menggunakan ojek langganan, ojek langganan ketika itu sedang sakit, akhirnya dengan terpaksa kaki ini melangkah diantar my mom hingga berapa langkah, tiba-tiba tetangga ku hendak keluar berolah raga dipagi hari jika liburan tiba, dengan ditemani anak satu-satunya, dia menanyakan mau kemana, kukatakan mau kedepan, lalu menawarkan diri untuk mengantarkan, kusegera mengiyakan, karena arahnya yang sama, maka tak kupikir panjang untuk segera melaju, karena janji waktu mengejar, dan jangan sampai mengecewakan, sepanjang perjalanan dia bertanya, mau kemana ku jawab berlibur, tiba-tiba dia membuka perbicangan yang membuat ku kaget, mbak kok belum nikah? dijawab dengan enteng belum ada jodohnya, lalu dia membuka pembicaraan yang membuat tertawa hingga menggeli tau ga mba waktu dulu aku suka sama mba dan ada niat untuk meminang mba, namun saya lihat karakter mba yang begitu serius membuat saya urung setiap melangkah kaki kerumah mba, aku kaget, tapi kaget ku tak seberapa, hanya senyum simpul ku berikan padanya, terus dia menceritakan lagi kisah hati terhadap diri ku, aku sering lho perhatiin mba ketika pulang kuliah, mba aja ga tau, setiap dipersimpangan jalan, aku tunggu mba, tapi akanmba nya aja ga ngeh, lalu aku katakan padanya, terus sekarang apa tujuannya menyampaikannya, lalu dia jawab biar hati ini tenang mengungkapkan perasaan yang terpedam beberapa tahun silam, aku tertawa hahaha lucu,terus dia lanjutkan lagi, khan kalau udah ungkapin begini saya jadi plong, lalu aku tertawa dengan nada hahaha kasian, terus dia jawab ko kasian mbak, ya inilah salah satu kekecewaan terhadap diri sendiri yang tidak tegas, apa keinginannya, terus dia berceloteh lagi soalnya waktu itu mbak khan lagi kuliah, terus keliatannya mba orangnya jutek gitu, aku tertawa lagi dengan serunya, lalu dia bertanya mba apa jawaban ketika dulu kalau saya ungkapin perasaan itu ke mba, ku jawab diterima, dia dengan nada agak seneng gitu bener? serius? kenapa? soalnya seorang wanita kebih tertarik pada pria yang bersungguh-sunguh apa adanya, dalam menggapai keinginannya..tak terasa perjalanan sampai dekat gang telah sampai, lalu dia mengerut dahi seraya menyesal, terus ku jawab sudahlah itu takdir mu, dan jadikan takdir mu seindah apa pun itu.....hihihi 

Wednesday, May 25, 2011

Sosok manusia

Jika tersandar sebuah yang semu…
Jiwa manusia  yang berubah…
Ia lemah…
Ketika kebahagiaan datang dia lupa…
Jika kesedihan melanda dia meronta-ronta…
Jika dia yakin esok dia ragu
Jika dia setia esok ketika keindahan datang dia berpaling…
Jika  dia jujur esok dia bohong…
Jika dia penuh dengan konsep esok dia ubah konsep…
Jika dia bercita-cita esok dia mengubah cita-citanya…
Jika dia berusaha kemudian menemukan aral maka dia lemah…
Jika dia  hari ini bahagia esok sedih..
Dia sabar hari ini esok meronta…
Dia pasrah hari ini, esok dia bermurka durja…
Jabatan melimpah membuat dia lupa…
Kemiskinan mendera membuat dia kufur…
Hari ini dia tenang besok bergejolak…
Hari ini dia mendekat padaNya, esok menjauhkanNya..
Hari ini dia membuat keputusan esok dia memutuskan..
Hari ini dia menata esok dia merusak
Istighfar yang terdalam jasad dan raga serta pikiran dan jiwa penuh dengan kesemuan…
Penuh dengan kemunafikan, kealpaannya hingga waktu habisnya tak diketahuinya
Hingga zaman terus berputar…dan itulah ritme sebuah sosok yang dinamakan semu…
(instropeksi buat diri sendiri)

Tuesday, May 17, 2011

Wanita Yang Terpasung

Wanita Yang Terpasung
Sosok itu lembut, penuh dengan kesabaran, penuh dengan ke”apikan”, penuh dengan kepekaan,keindahan,  penuh dengan kasih sayang, itulah seorang wanita, dari luar menampilkan sosok yang lemah namun dalam dirinya menampilkan sosok yang kuat bahkan teramat kuat , dia kunci kehidupan, di tangan nyalah generasi itu ada, di tangan nyalah  ia ajari kita kata, kata kehidupan, dan cara mengawali hidup, sosok itu terkadang terdiskriminasikan oleh adat yang melingkupinya, kebudayaan yang membeku membuat ruang lingkupnya terbatas, bahkan penggambaran sebagai sosoknya hanya sebagai ibu rumah tangga sudah cukup, bahkan kewajiban hanyalah dirumah mengurus anak suami itulah rutinitas yang melekat pada sosoknya, bahkan sebagian para wanita merasa terpasung dengan kebudayaan yang sebenarnya dalam Islam tidak ada, islam menggambarkan sosok perempuan yang tinggi derajat, surganya ditangannya, islam sangat membela hak-hak kaum perempuan, contohnya nyata adalah Aisyah RA dialah sosok perempuan yang pandai, hapal ribuan hadits, para sahabat nabi terkadang meminta nasehat atau petunjuk kepada beliau, tentang permasalahan umat yang sedang dihadapi, itu berarti  menunjukkan Rasulullah sangat membebaskan Aisyah dalam mencari ilmu, bahkan Rasulullah sering sekali mengajak Aisyah berdialog tentang umatnya pada kala itu, sekarang kita tilik dengan keadaan yang pada umumnya wanita terkadang diremehkan dalam sebuah pendapatnya, bahkan diabaikan dalam setiap ucapannya, dalam sebuah rumah tangga terkadang suami lebih dominan, bahkan kedominan itu terbentuk oleh budaya yang sebenarnya dalam islam tidak ada, sebenarnya tugas dalam pekerjaan rumah tangga, seperti mengurus anak, mencuci, memasak, dan pekerjaan rumah tangganya yang lain, tidak sepenuhnya di urus oleh wanita semata, tapi merupakan kewajiban dari imam rumah tangga, namun adat itu hingga sekarang melekat bahwa wanita merupakan pekerja rumah yang hanya mengurus anak, memasak dan sebagainya,tidak sepenuhnya tanggung jawab itu berada ditangan wanita tapi tanggung jawab itu di tangan pria, dan hendaknya dipikul sama-sama, mengubah paradigma adat butuh hati yang lembut yang tercipta dalam lingkup keseimbangan, terkadang jiwa kesatria terlalu kesatria yang mengarah keegoisan membuat wanita terpasung dan akhirnya adat itu masih melekat hingga saat ini, bahwa wanita hanyalah pekerja rumah. Bukan itu saja dalam dunia kerja, wanita selalu di nomor duakan, ada sebagian perusahaan yang tidak mau mengambil karyawan wanita, karena dengan memperkerjakan wanita resikonya besar, nanti hamil, cuti dan banyak libur karena urusan rumah tangga, mengapa ketika anak sakit ibu yang harus izin dari pekerjaannya, mengapa bukan seorang ayah yang izin untuk mengurus anaknya, atau untuk lebih adilnya mengapa tidak izin keduanya ibu dan ayahnya inilah adat yang melekat hingga saat ini, sehingga sosok itu masih terpaku dengan budaya lama, yang sebenarnya islam menjunjung tinggi kemartabatannya, perusahaan di Indonesia pun masih menggunakan tradisi lama bahwa wanita merupakan pekerja sama dengan pria, hasilnya pun harus sama, padahal sesungguhnya kodrat dari dua jenis insane berbeda, tentunya harus menyeimbangkan dengan ketentuan porsinya masing-masing, diskriminasikan itu pun masih ada hingga saat ini, perempun dilarang untuk membawa anaknya dalam bekerja karena dapat menganggu pekerjaannya, padahal wanita itu lebih pandai lebih apik dalam menyeimbangkan pekerjaannya, banyak wanita bisa menyelesaikan pekerjaannya layaknya pria walau membawa anak sekalipun, terkadang ada kerisihan jika seorang wanita membawa seorang anak dalam bekerja, padahal dengan membawa anak dalam bekerja merupakan pelajarn dini buat anak terhadap keadaan hal hidup orang tuanya, dan anak akan lebih peka terhadap orang tua, jiwanya akan lebih mengenal keadaannya, tanpa meninggalkan dunianya sebagai anak-anaknya. Bahkan untuk pulang sebentar pun sulit bagi seorang pekerja wanita yang sedang menyusui, sehingga susu formula menjadi dominan bagi seorang anak, padahal asi merupakan poin penting dalam masa pertumbuhan bayi atau balita. Jadi sampai kapan keterpasungan itu melekat, dan sampai kapan adat itu melekat dan sampai kapan paradigma itu tetap ada…..

(tulisan ini terinspirasi dari melihat, mendengar…untuk wanita Indonesia yang tetap sabar dalam keterpasungannya).

Tafakur dari semut

Sering kita bosan atau boring terhadap apa yang kita lakukan sehari-hari, bahkan terkadang kita mengeluh apa yang menjadi tanggung jawab kita, kali ini muhasabah yang akan dibahas adalah belajar dari seekor semut. Semut adalah binatang yang diciptakan oleh Allah dengan keuletan dan kesabaran dalam menggapai apa yang menjadi impiannya, semut selalu berusaha apa yang menjadi keinginannya, dia tak akan pernah jenuh bahkan bosan apa yang menjadi tujuan, selalu dia lakukan berulang-ulang, untuk mengumpulkan sebuah makanan itulah impiannya bahkan batu besar pun dia lewati untuk menggapai tujuan yaitu makanan, ketika dia mendapat rintangan dalam menggapai impiannya, dia terhenti sebentar kemudian dia mengumpulkan kekuatan tenaga yang lebih besar untuk menggapai impiannya tersebut. Itulah salah satu gambaran ciptaan Allah dalam tafakur semut, inilah yang dikatakan istiqomah, kita diperintahkan oleh Allah untuk bersungguh-sungguh terhadap apa yang kita impikan atau cita-citakan, terkadang perasaan jenuh, bosan yang berulang-ulang setiap pekerjaan atau tindakan yang dilakukan membuat kita tak bersungguh-sungguh, bahkan kita lebih asyik dengan kemalasan yang mendera, atau kesenangan sesaat yang membuat kita terlena, disinilah dibutuhkan pemikiran yang mendewasakan pribadi, akhlak merupakan cerminan dalam setiap tindakan, ketepatan dalam bertindak merupakan kunci cita-cita, dan dibutuhkan pengorbanan kesenangan dibalik keinginan kita, apalagi ketika rintangan menghadang  membuat kita jera dan terlena dengan rasa yang mendera rintangan tersebut, dan kita akan melangkah mundur kembali, itulah yang menyebabkan kita gagal dalam meraih impian kita, jadi lakukanlah apa yang menjadi tujuan, impian kita, jangan pernah bosan, jenuh melakukan kegiatan yang berulang-ulang, dan ketika rintangan menghadang maka jangan terhenti, terhenti sesaat kemudian bergegaslah dengan kekuatan yang lebih besar raihlah impian kita.
(muhasabah buat diri sendiri tanpa rasa menggurui siapa pun, karena penulis pun seorang yang lagi belajar untuk menjadi lebih baik). 

Tuesday, May 10, 2011

instropeksi diri dari syair cak nun

Syair Mahasiswa Menjambret

Sebab tergoda oleh betapa seru berita di koran serta oleh pengujian para tetangga, bertanyalah aku kepada penyairku, “Akir-akhir ini orang makin ribut tentang pelajaran dan mahasiswa kriminal. Aku bertanya benarkah puisimu tak membutuhkan tema semacam itu, atau tidakkah soal-soal seperti itu memerlukan puisi?”

“Aku tak paham apa yang aneh”, berkata penyairku, “Kalau mahasiswa mulai sanggup menjambret, kalau pelajar sudah berani mencuri odol, dan sikat gigi, kalau para calon pemimpin bangsa telah memiliki nyali untuk mencopet jam tangan dan mengutil sepatu: tak kumengerti apa yang perlu diherankan?”

Bukan. Bukan soal heran dan tak heran. Kami orang-orang awam terlalu sering dikagetkan oleh perkawinan antara dua hal yang semestinya jangan pernah bersentuhan.
Antara dunia penjambretan dengan dunia dunia keterpelajaran terbentang jarak yang bukan saja amat jauh, tapi juga bersungguh-sungguh. Kalau ada dua nilai yang saling bertentangan, namun berhasil dikawinkan secara damai oleh sejarah dan perilaku manusia: hanya penyair tuli yang tak tergoda untuk menuangkannya.

“Demi apa sehingga engkau menganjurkan puisi bergaul dengan hal-hal picisan?”, penyairku tertawa, “Para kaum terpelajar yang baru belajar menapakkan kaki, yang keterampilannya tanggung ? menggeledah tas teman kostnya, melarikan motor tetangganya, merencanakan penodongan,
perampokan, pembunuhan ? belum pantas dipuisikan.
Dunia kepenyairan tidak sedemikian rendah derajatnya.

Jagat kesenian memerlukan soal-soal besar, umpamanya kesepian hati atau kembang dan kupu-kupu di pagi hari.
Tapi baiklah. Kalau kaum terpelajar bersedia tak sedemikian tergesa-gesa. Kalau para pioneer sejarah
sanggup menahan emosi dan sedikit bersabar. Kalau para pemilik utama masa depan mau belajar baik-baik dan tunggu momentum yang tepat untuk kelak menjadi penjambret yang canggih tersenbunyi, tanpa orang tahu bahwa mereka adalah penjambret ? puisiku masih akan membukakan
pintunya untuk suatu tawar-menawar.”

Apa yang sesungguhnya hendak engkau ucapkan, penyairku?
Penyair amat berbakat merusak kehidupan karena begitu gampang menemukan kata-kata, bahkan pun untuk keadaan yang samar-samar baginya.

Malah mengeras tertawanya, “Samar-samar, katamu?”, ia mendongak, “Kalau mahasiswa mulai sanggup bertindak kriminal, apakah ia diajari oleh dirinya sendiri?
Ataukah ia dituntun oleh para pejambret yang mampu Melakukan penjambretan sedemikain rupa sehingga beribu-ribu orang tak merasa bahwa isi kantong kehidupan mereka terus dijambret dari hari ke hari?”

Kupikir itu bukan hanya sombong dan tergesa-gesa. Namun juga berangkat dari sangka buruk. Adakah kemampuan yang dahsyat dalam memotret sesuatu yang dimiliki penyair membuatnya tak membiasakan diri untuk bersabar, menyaring atau mengendapkan?

“Dengarlah”, ia mendongak lebih tinggi, “Kalau para kaum terpelajar mulai belajar mengerjakan kejahatan-kejahatan yang wantah, adakah engkau menyangka Tuhan memang mentakdirkan mereka demikian? Ataukah itu hasil godogan dari tata hubungan kehidupan yang menyediakan amat banyak lintah-lintah?
Dengarlah air mengalir tidak tiba-tiba sampai di muara.
Dan jika matamu memandang awan berarak, hendaklah engkau tatap juga samudera yang menghampar dan panas matahari yang memanggangnya. Mendung tidaklah mengepulkan dirinya sendiri dan kemudian hadir menyaput hari-harimu sebagai hantu yang tanpa asal-usul?”

“Kalau mahasiswa mulai sanggup menjambret di muka orang banyak,” ia tak memberiku kesempatan untuk menang-gapi, “Siapakah gurunya? Tangan siapakah yang melontarkan mata tombak kejahatan? Petani manakah yang menanamkan benihnya dan merabuki kesuburan tetumbuhan-nya? Kalau kaum terpelajar mulai sanggup melakukan tingkat kejahatan yang paling dangkal dan remeh,
Apakah karena mereka memang orang jahat?”

“Kebaikan dan keluhuran tidak diterjemahkan ke dalam buku-buku pelajaran. Gedung-gedun sekolah menyediakan laboratorium bagi anak-anak untuk menjadi pandai, dan tidak terutama untuk menjadi baik.
Mendaftarlah ke antrian kesempatan sekolah, tinggalkan anak-anak lain yang tolol dan tak punya biaya. Reguklah Tujuh samudera pengetahuan. Tapi untuk soal-soal bagaimana membangun kebajikan, sepenuhnya diserahkan kepadamu masing-masing ? apakah akan mencarinya di
balik tikar-tikar kumuh robek rumah-rumah ibadah, atau di pinggiran kaki lima-kaki lima kehidupan?”

“Kalau anakmu berangkat sekolah di pagi hari, mulutnya menganga untuk disuapi pengetahuan tentang kepandaian dan kemenangan, bukan kebijakan dan kebersamaan.
Anak-anakmu diajari berlari maju, melampaui dan meninggalkan anak-anak lain yang bersemayam di kesempitan-kesempitan hidup.
Anak-anakmu diajari untuk terampil memanjat melewati pundak teman-teman bermain mereka, beribu-ribu, berjuta-juta teman bermain mereka yang perjalanan hidupnya tercengkal.
Meninggalkan mereka semua yang mandeg di masa silam.
Pergi berlari, meniti daerah impian, menapaki tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi dan menjanjikan kemewahan.

Anak-anakmu diajari untuk mengalahkan yang lain.
Untuk melampaui dan meninggalkan sumber-sumber kesejarahan mereka sendiri, untuk meraih apa yang disebut derajat, kamukten dan kemenangan.
Anak-anakmu berbaris di halaman sekolah, berjajar di bangku-bangku kelas, punggung mereka dicambuk untuk berlatih menang ? dan jika kemenangan amat sukar diperoleh secara wajar ? sebab peluang untuk itu menjadi semakin sempit dan semakin sempit ? maka wajarlah jika mereka lantas menjegal siapa saja di sekitar mereka yang bisa dijegal: mencopet, menjambret, merampok,
di kampung, dijalanan”

“Adapun hal-hal yang menyangkut nasib orang lain, tenggang hati terhadap sesama, kesadaran utnuk meruwat keadilan dan kemuliaan ? tidak merupakan urusan utama di dalam butir-butir pelajaran dan baris-baris pengetahuan.

Adapun soal-soal yang berkenaan dengan tubuh besar kemanusiaan, keinsafan untuk nggemateni nilai dan keilahian ? hanyalah unsur pinggiran bagi pusat-pusat mimpi dan perjuangan untuk berlomba menang, kontes kemakmuran dan rekor-rekor kesejahteraan serta kemegahan”

“Anak-anakmu diajari untuk tidak mengerti apa-apa kecuali kepentingan diri sendiri. Tangan dan kaki anak-anakmu dilatih tidak untuk apa-apa kecuali untuk beringas memompa perut dan gengsinya sendiri.
Naluri anak-anak dididik untuk menindak dan memakan orang lain untuk cita-cita pribadi. Anak-anakmu dipacu untuk berpikir sebagai ego, di mana segala sesuatu di luar itu hanyalah amat bagi ego-ego.

Anak-anakmu dibikin tak paham kebersamaan. Anak-anakmu dididik untuk menjadi segumpal keasingan, tidak untuk menjadi seseorang di tengah berbagai orang.
Anak-anakmu dididik untuk menjadi pusat-pusat penghisap”

“Anak-anakmu diletakkan di dalam proses salah kaprah untuk berkembang menjadi penjambret-penjambret yang halus dan sophisticated Maka apabila ada di antara mereka yang kebelet melakukan
ketololan dengan menjambret di jalanan, itu hanyalah pertanda bahwa daerah-daerah untuk proyek penjambretan-penjambretan canggih sudah semakin menciut.
Anak-anakmu tidak terlalu siap untuk ragu-ragu terhadap kesempatan, untuk terlampau berjudi dengan hari depan yang samara-samar; sehingga hari ini juga mereka merasa harus memperoleh sesuatu, mendapatkan benda-benda, gengsi dan kenkmatan seperti yang dipunyai orang-orang lain”

“Gerbong-gerbong sekolah dengan sendirinya mengangkut mereka ke hari depan penjambretan struktural meskipun guru-guru mereka tak mengetahui hal itu.
Guru-guru mereka ? yang toh manusia sehingga tetap tersisa kemanusiaannya ? di luar paparan kurikulum, memberi nasihat bahwa penjambretan itu tidak baik. Tapi hendaklah kita catat bahwa di dalam negara dan perusahaan sekolah: penjambretan diajarkan, sedangkan kejujuran dan kebajikan hanya dianjurkan sesekali”

“Dan di manakah sejarah ini memiliki tempat bagi anak-anakmu dalam kehidupan?
Jika anak-anakmu berdiri memandang tanah menghampar, mereka membayangkan akan mendirikan rumah, garasi dan kolam renang. Jika di depan matanya tegak sebatang pohon, mereka berpikir untuk menebangnya. Anak-anakmu tidak dididik untuk menanam dan menumbuhkan, melainkan untuk
menguasai dan duduk di singgasana”

“Anak-anakmu bertengger di bawah batang timbangan yang timpang antara modal dan daya tawar menawar yang rendah dengan iming-iming hidup enak yang meneror mereka dari hari ke hari
Anak-anakmu dikepung oleh gegap gempita orang berebut kejayaan. Orang jegal-menjegal. Orang menyerimpung dan diserimpung. Anak-anakmu dikepung oleh uang dan kekuasaan yang menjadi bahasa utama dari yang mereka sangka kemajuan. Oleh pasal-pasal hokum yang diperjual belikan. Oleh ayat-ayat agama yang dijual eceran. Oleh tradisi penafsiran yang sepihak. Oleh pemaksaan yang damai, kemunafikan yang harmonis, manipulasi yang berwajah ramah, kepalsuan yang cerah dan penghisapan yang nikmat. Anak-anakmu makin tidak menemukan tempat untuk meneladani kejujuran. Anak-anakmu digiring memasuki komune tempat perzinaan missal dari sejarah yang
auratnya telanjang tapi wajahnya bertopeng”

Kutinggalkan penyairku. Tampaknya aku mulai memahami kepenyairan bukanlah sejenis bakat di mana kata-kata amat gampang ia temukan dan pilih. Kepenyairan adalah - hampir - ketidakmampuan menemukan kata. Sebab kata lebih sanggup mengaburkan kenyataan dibanding mewakilinya.
Dan penyairku, dengan ratusan kata-katanya itu, kukira telah berbuat curang terhadap realitas.

Tapi ia justru tertawa keras dan berkepanjangan ketika melepasku pergi, “Bagaimana engkau bias menjadi sedemikian tolol untuk menyangka bahwa urusan utama para penyair adalah kata-kata? Dengan kata-kataku itu aku tidaklah berkata-kata. Ini kehidupan”

1988.
(Emha Ainun Nadjib/"Sesobek Buku Harian Indonesia"/1993/Bentang Intervisi Utama/PadhangmBulanNetDok)