Persepsi itu
alhamdulillah..ini lah yang terucap dari alur yang sangat keras dapat melewatinya, setelah jalan panjang, berliku namun akhirnya sesi ini berakhir, ku hadapkan diri pada Sang Maha, lalu keluh kesah ini menyiratkan kerahman Nya, kasih sayang Nya yang tak terhingga, semua ada jalanNya, seraya hati menjawabNya, kemudian di disujudkan wajah ini, senyum indah mempesona dari Sang Maha dalam dekapan ketenangan, karena sejati hidup adalah ketenangan.semoga dapat melewati setiap alur dengan baik, walau terkadang hantaman angin menerpa tiada henti, caci maki atau persepsi buruk terhela nafas kemudian pergolakan batin akan suatu hal menjadikan lebih arif dalam menghadapi sesuatu, biarlah sudut pandang itu berceloteh, biarlah persepsi itu berceloteh dan biarlah pendapat itu berceloteh, namun dekapan Sang Maha seolah menarik tangan menyambut Nya dalam relung dalam, lalu Sang Maha menjawab, mengapa risau dengan cacian makian, mengapa risau dengan persepsi buruk, dan mengapa risau dengan nama baik, siapa yang lebih mengenal hambaNya selain PenciptaNya, dan manusia hanyalah sebatas pandang sedangkan Tuhan Mu tak pernah sebatas pandang, ku rangkai kata kata dalam naungan indah, dalam jalan berliku, semoga setiap langkah adalah benar, dan semoga setiap langkah tak pernah menyakiti sesama, biarlah orang lain menyakiti asalkan diri tak pernah menyakiti, yang tersamar pergilah dengan kesamaran mu, temui kepastian mu dengan jalan yang benar, berproses lah dengan benar, agar hasil dari sebuah proses itu benar yaitu tercapai, jika kau lelah dalam berproses, maka katakanlah ingin sejenak terdiam, lalu kembalilah dalam proses mu, jika ingin terhenti maka katakanlah ingin terhenti...
No comments:
Post a Comment