Sosok itu lembut, penuh dengan kesabaran, penuh dengan ke”apikan”, penuh dengan kepekaan,keindahan, penuh dengan kasih sayang, itulah seorang wanita, dari luar menampilkan sosok yang lemah namun dalam dirinya menampilkan sosok yang kuat bahkan teramat kuat , dia kunci kehidupan, di tangan nyalah generasi itu ada, di tangan nyalah ia ajari kita kata, kata kehidupan, dan cara mengawali hidup, sosok itu terkadang terdiskriminasikan oleh adat yang melingkupinya, kebudayaan yang membeku membuat ruang lingkupnya terbatas, bahkan penggambaran sebagai sosoknya hanya sebagai ibu rumah tangga sudah cukup, bahkan kewajiban hanyalah dirumah mengurus anak suami itulah rutinitas yang melekat pada sosoknya, bahkan sebagian para wanita merasa terpasung dengan kebudayaan yang sebenarnya dalam Islam tidak ada, islam menggambarkan sosok perempuan yang tinggi derajat, surganya ditangannya, islam sangat membela hak-hak kaum perempuan, contohnya nyata adalah Aisyah RA dialah sosok perempuan yang pandai, hapal ribuan hadits, para sahabat nabi terkadang meminta nasehat atau petunjuk kepada beliau, tentang permasalahan umat yang sedang dihadapi, itu berarti menunjukkan Rasulullah sangat membebaskan Aisyah dalam mencari ilmu, bahkan Rasulullah sering sekali mengajak Aisyah berdialog tentang umatnya pada kala itu, sekarang kita tilik dengan keadaan yang pada umumnya wanita terkadang diremehkan dalam sebuah pendapatnya, bahkan diabaikan dalam setiap ucapannya, dalam sebuah rumah tangga terkadang suami lebih dominan, bahkan kedominan itu terbentuk oleh budaya yang sebenarnya dalam islam tidak ada, sebenarnya tugas dalam pekerjaan rumah tangga, seperti mengurus anak, mencuci, memasak, dan pekerjaan rumah tangganya yang lain, tidak sepenuhnya di urus oleh wanita semata, tapi merupakan kewajiban dari imam rumah tangga, namun adat itu hingga sekarang melekat bahwa wanita merupakan pekerja rumah yang hanya mengurus anak, memasak dan sebagainya,tidak sepenuhnya tanggung jawab itu berada ditangan wanita tapi tanggung jawab itu di tangan pria, dan hendaknya dipikul sama-sama, mengubah paradigma adat butuh hati yang lembut yang tercipta dalam lingkup keseimbangan, terkadang jiwa kesatria terlalu kesatria yang mengarah keegoisan membuat wanita terpasung dan akhirnya adat itu masih melekat hingga saat ini, bahwa wanita hanyalah pekerja rumah. Bukan itu saja dalam dunia kerja, wanita selalu di nomor duakan, ada sebagian perusahaan yang tidak mau mengambil karyawan wanita, karena dengan memperkerjakan wanita resikonya besar, nanti hamil, cuti dan banyak libur karena urusan rumah tangga, mengapa ketika anak sakit ibu yang harus izin dari pekerjaannya, mengapa bukan seorang ayah yang izin untuk mengurus anaknya, atau untuk lebih adilnya mengapa tidak izin keduanya ibu dan ayahnya inilah adat yang melekat hingga saat ini, sehingga sosok itu masih terpaku dengan budaya lama, yang sebenarnya islam menjunjung tinggi kemartabatannya, perusahaan di Indonesia pun masih menggunakan tradisi lama bahwa wanita merupakan pekerja sama dengan pria, hasilnya pun harus sama, padahal sesungguhnya kodrat dari dua jenis insane berbeda, tentunya harus menyeimbangkan dengan ketentuan porsinya masing-masing, diskriminasikan itu pun masih ada hingga saat ini, perempun dilarang untuk membawa anaknya dalam bekerja karena dapat menganggu pekerjaannya, padahal wanita itu lebih pandai lebih apik dalam menyeimbangkan pekerjaannya, banyak wanita bisa menyelesaikan pekerjaannya layaknya pria walau membawa anak sekalipun, terkadang ada kerisihan jika seorang wanita membawa seorang anak dalam bekerja, padahal dengan membawa anak dalam bekerja merupakan pelajarn dini buat anak terhadap keadaan hal hidup orang tuanya, dan anak akan lebih peka terhadap orang tua, jiwanya akan lebih mengenal keadaannya, tanpa meninggalkan dunianya sebagai anak-anaknya. Bahkan untuk pulang sebentar pun sulit bagi seorang pekerja wanita yang sedang menyusui, sehingga susu formula menjadi dominan bagi seorang anak, padahal asi merupakan poin penting dalam masa pertumbuhan bayi atau balita. Jadi sampai kapan keterpasungan itu melekat, dan sampai kapan adat itu melekat dan sampai kapan paradigma itu tetap ada…..
(tulisan ini terinspirasi dari melihat, mendengar…untuk wanita Indonesia yang tetap sabar dalam keterpasungannya).
No comments:
Post a Comment